Ilustrasi produk IKM dengan bahan ramah lingkungan. (Foto: Indonesia.go.id)

Jakarta, MNEWS.co.id – Kementerian Perindustrian (Kemenperin) menaruh perhatian pada pengolahan limbah di sektor industri kecil menengah (IKM). Efisiensi dan keamanan pengolahan limbah IKM merupakan aspek penting untuk mewujudkan industri hijau.

Penerapan industri hijau diperlukan agar IKM memiliki daya saing di tengah perubahan lingkungan saat ini. Apalagi IKM diyakini memiliki peran strategis dalam perekonomian nasional.

“Kami mendukung para pelaku IKM untuk lebih menyadari pentingnya beradaptasi dalam melakukan usahanya, agar semakin produktif dan lebih ramah lingkungan,” kata Kepala Badan Standardisasi dan Kebijakan Jasa Industri (BSKJI) Kemenperin, Doddy Rahadi.

Doddy menyampaikan, saat ini BSKJI menjalankan program pendampingan pengelolaan lingkungan hidup pada IKM. Tujuannya agar IKM memahami dan menerapkan proses pengolahan limbah di industri.

Program pendampingan dilakukan oleh salah satu unit kerja di bawah BSJKI Kemenperin, yakni Balai Besar Teknologi Pencegahan Pencemaran Industri (BBTPPI) di Semarang. Balai besar tersebut melakukan pendampingan pengelolaan lingkungan hidup pada IKM melalui BIDIK PESONAMU (BBTPPI dukung industri kecil profesional, berwawasan lingkungan, dan maju).

Setidaknya ada dua jenis IKM yang dinilai masih menyumbang limbah bagi lingkungan yakni batik dan tahu. Menurut data Kemenperin, saat ini industri batik tersebar di 101 sentra di Indonesia. Sedangkan sedikitnya ada 203 industri yang bergerak pada produksi tahu dan olahannya.

Peran besar kedua industri pada perekonomian nasional tidak terlepas dari kebutuhan dan kesadaran atas dampak produksi pada pencemaran lingkungan. Pasalnya, masih banyak pabrik tahu yang belum memiliki proses pengolahan limbah cair. Sedangkan di IKM batik, terdapat banyak potensi pencemaran, antara lain berupa limbah padat, cair, serta emisi udara.

Adapun program dukungan Kemenperin terhadap pengelolaan limbah untuk IKM produsen tahu telah berjalan di daerah Magelang, Singkawang, Makassar, Kediri dan Bandung. Kegiatan tersebut berupa  pendampingan produksi bersih serta fasilitasi mesin dan peralatan pengolahan limbah sentra IKM tahu.

Sementara itu Kepala BBTPPI Emmy Suryandari mengemukakan kepedulian pihaknya terhadap pengembangan sektor IKM yang berwawasan lingkungan diharapkan dapat meningkatkan produktivitas dan daya saingnya.

BBTPPI mengenalkan teknologi Hybrid Advanced Oxidation Process (HAOP) sebagai generasi kedua dari Electrochemical AOP sebagai advance treatment pada pengolahan limbah batik yang dapat diaplikasikan pada lahan sempit dengan proses yang cenderung lebih cepat. Teknologi ini juga dapat diintegrasikan dengan teknologi konvensional seperti anaerobic process.

IKM juga dapat mulai menerapkan reduce, reuse, recycle, dan recovery pada setiap prose produksi sehingga timbulan limbah lebih sedikit serta mudah penanganannya. Selanjutnya, limbah tahu yang mengandung bahan organik tinggi dapat dikonversi menjadi biogas untuk dimanfaatkan kembali sebagai sumber energi.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here