( Foto : Desy Setyowati )
( Foto : Desy Setyowati )

Samarinda, MNEWS.co.id – Beberapa waktu lalu Presiden Joko Widodo (Jokowi) mengumumkan pemindahan ibu kota negara ke Kalimantan Timur, Samarinda. Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf) serta Kementerian Koperasi dan Usaha Kecil Menengah (Kemenkop UKM), menjelaskan wilayah tersebut memiliki empat subsektor ekonomi kreatif yang berpotensial untuk dikembangkan.

Kepala Bekraf  Triawan Munaf mengatakan bahwa setiap wilayah di Indonesia mempunyai potensi bisnis dalam bidang ekonomi kreatif. Rencana pemerintah memindahkan ibu kota negara dari Jakarta ke Kalimantan Timur, maka pembangunan kantor, arsitektur serta desain interior akan terus berkembang dan meningkat di wilayah tersebut. “Keduanya ada di bawah Bekraf. Mereka di awal-awal (pemindahan) ini akan sangat sibuk selama beberapa tahun ke depan,” kata  Triawan di Jakarta, Selasa (27/8).

Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian menyebutkan bahwa sektor kuliner akan semakin berkembang dengan kontribusi sebesar 56% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) ekonomi kreatif. Rully Indrawan selaku Sekretaris Kemenkop UKM mengungkapkan saat ini kriya cukup berkembang di Kalimantan Timur. “Ada tanaman purun tikus yang tumbuh disana. Selama ini tanaman itu diolah menjadi tikar saja,” ujarnya. Menurutnya tanaman itu dapat diolah menjadi berbagai produk dengan nilai jual yang tinggi dibandingkan dengan tikar. Misalkan diolah menjadi tas atau dompet. “Ada potensi di sana yang bisa kami kembangkan terus,” katanya.

Salah satu pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) yang berada di Kalimantan Timur adalah Batik Vi yang menggunakan purun tikus. Pegi selaku adik dari pemilik Batik Vi mengatakan bahwa tanaman tersebut harus diolah saat malah hari, karena ketika suhu udara panas purun tikus akan mengeras.

Batik Vi sudah memasarkan produknya hingga ke luar negeri seperti Amerika Serikat, dan harganya pun tetap sama yaitu Rp 500 ribu hingga Rp 1 juta untuk tas besar maupun kecil (clutch). Sementara untuk kain dan pakaian memiliki harga sebesar Rp 1 – 5 juta per lembar. Kain batik yang digunakan memiliki motif Etlingera Balikpapanensis yang menggunakan tumbuhan sejenis jahe ini ditemukan ahli botani asal Denmark, Axel Dalberg Poulsen di Hutan Lindung Sungai Wain, Kalimantan Timur. “Tahun lalu saja omzet kami Rp 1 miliar. Setiap tahun selalu naik,” ujar Pegi.Desy Setyowati

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here