Roh Perempuan dalam Karya Seni Rupa Baru: Air Tajin, Kecoak, Hingga Demokratisasi Karbohidrat

Dewi Fadhilah Soemanagara | 28 Februari 2019, 17:34 WIB

Jakarta, MNEWS.co.id – Berbagai macam cara digunakan para perupa perempuan muda Indonesia dalam menuangkan kegelisahan dan pemikirannya. Di setiap aneka rupa karya yang tercipta, kita bisa melihat berbagai sisi, mulai dari sisi kritis, estetika, romantika, nostalgia, dan aspek lain yang mungkin belum pernah terpikirkan sebelumnya.

Begitu pula dengan 21 perupa perempuan muda Indonesia yang menuangkan gagasan-gagasannya dalam seni rupa baru, atau seni rupa kekinian (now art) dalam pameran “Into the Future”. Tidak sekadar mengekspresikan abstraksi pemikiran yang cenderung kritis namun tetap estetis, ada “roh perempuan” yang sangat terasa dalam setiap karya yang dibuat. Roh perempuan ini sangat khas, karena dituangkan dengan sisi-sisi emosional yang tidak biasa.

Sebut saja karya Irene Agrivina Widyaningrum. Dengan mengangkat isu sains dan teknologi yang kerap dianggap sebagai ranah kaum pria, kini sudah mulai berubah dengan masuknya open source technology serta teknologi ramah perempuan yang diciptakan oleh kaum perempuan itu sendiri.

Dalam karyanya yang bertajuk “Tajin”, Irene menggunakan proses biologis dengan open source perangkat lunak dan perangkat keras untuk membuat pakaian yang melindungi tubuh perempuan dari polutan berbahaya yang biasanya digunakan dalam industri fashion modern.

"Tajin" karya Irene Agrivina Widyaningrum. Foto: (doc/MNEWS)

Melalui proses air tajin, Ia membuat selulosa, kemudian menambahkan sejumlah bakteri seperti acetobacter xylinum, serta bunga bakteri dari alat kelamin perempuan. Tajin (Pati) dibuat dengan alat-alat sederhana dan bahan nonformal yang didapat dengan mudah, dan bisa ditemukan dalam kehidupan sehari-hari perempuan.

Bisa dikatakan, Tajin merupakan sebentuk bukti sekaligus kritik terhadap bahan-bahan kimiawi yang masih dipergunakan hingga saat ini dalam berbagai aspek kehidupan perempuan, mulai dari pakaian dalam, make-up, hingga pembalut. Karyanya menjadi salah satu inovasi perempuan yang perlu direkam dalam sejarah seni rupa.

Karya lain yang tak kalah unik adalah bayangan masa depan ala Natasha Tontey. Perupa kelahiran 1989 ini mempertanyakan masa depan dengan spekulasi yang memakai metoda fiksi-nyaris ilmiah (science-quasi-fiction) dan mengeksplorasi ide masa depan yang lebih eco-sentris. Disini, Natasha berusaha mengangkat derajat kecoak sebagai hewan yang kerap termarjinalkan dan dianggap menjijikkan serta tidak berguna, menjadi satu-satunya spesies yang dapat bertahan dan bisa saja menjadi kunci untuk masa depan yang berkelanjutan.

Video art karya Natasha Tontey yang mengangkat derajat kecoak sebagai penyelamat kehidupan yang
berkelanjutan. Foto: (doc/MNEWS).

Ia terinspirasi oleh Manifesto Xenofeminism, bahwa masa depan tidak lagi berpusat pada manusia saja, tetapi juga fokus pada mahluk hidup lainnya. Dengan media video art dan sebuah surat untuk kecoak yang menuliskan apresiasinya terhadap mahluk satu itu, Natasha seolah ingin mengingatkan pada kita bahwa kecoak pun punya peran signifikan dalam kehidupan.

Berikutnya, ada Prilla Tania yang mempertanyakan enerji, makanan, kesehatan dan industri yang sangat erat hubungannya dengan kebiasaan makan kita sehari-hari. Apa yang akan kita makan sebagai sarapan pagi ini?

"Demokratisasi Karbohidrat" karya Prilla Tania. Foto: (doc/MNEWS).

Karya instalasi ini menawarkan konsep partisipatoris pengunjung, dengan memberi pilihan pada jenis makanan tradisional daerah dan makanan ‘pabrikan’ apa yang akan dipilih, melalui karya berjudul “Demokratisasi Karbohidrat” atau pemilihan demokratis karbo. Ua seakan mengajak pengunjung untuk lebih kritis terhadap apa yang dikonsumsi oleh tubuh, dan memikirkan dampak yang menjadi konsekuensi logis di balik proses pembuatan makanan tersebut.

“Hidup hari ini seperti di belantara” kata Andrita Yuniza Orbandy. Ia menginginkan kebebasan seperti burung yang tinggal dalam perdamaian dan kebahagiaan. Sampai akhirnya, Ia menemukan bahwa Ia perlu melindungi kebebasannya dan memperkuat batinnya.

Mengikuti kehidupan burung yang membangun sarangnya sebagai tempat perlindungan, dia membangun struktur seperti benteng yang terbuat dari ranting-ranting pohon, dan memberinya judul “Weaving Joints of Self” atau Menganyam Sendi-Sendi Diri. Karya ambivalen ini seolah mengingatkan kita untuk mengutamakan kebebasan, sekaligus membentengi diri sendiri terhadap kemungkinan-kemungkinan buruk dari kebebasan itu sendiri.

Andrita Yuniza Orbandy dan gagasan kebebasan dalam “Weaving Joints of Self”. Foto: (doc/MNEWS).

Masih banyak karya para perupa perempuan muda Indonesia lainnya yang tak kalah memukau dan meledakkan pikiran akan stigma dan stereotipe yang selama ini beredar di pasaran. Pameran yang dikuratori oleh Clara Bianpoen dan Citra Smara Dewi ini berlangsung di Gedung A Galeri Nasional Indonesia, Jakarta, mulai 26 Februari hingga 16 Maret 2019. Datang dan jadilah saksi pergulatan seni rupa kontemporer dan pemikiran kritis para perupa perempuan muda Indonesia dengan pendekatan seni rupa baru.

Tentang Penulis
Dewi Fadhilah Soemanagara
Deskripsi penulis tidak tersedia


TAMBAHKAN KOMENTAR

Silahkan Masuk untuk berkomentar.

KOMENTAR

Memuat... Belum Ada Komentar