Kreasi Djawa Arts & Crafts: Inovasi Motif Hingga Material

Dewi Fadhilah Soemanagara | 05 Desember 2018, 18:09 WIB

Jakarta, MNEWS.co.id – Salah satu kunci sukses dalam menjalankan usaha adalah tidak pernah berhenti berinovasi. Hal inilah yang terus dilakukan oleh Djawa Arts & Crafts. Pelaku usaha di sektor kriya dan fashion ini selalu melakukan terobosan baru yang menjadikan produknya berciri khas unik dan lain daripada yang lain.

Usaha yang dirintis sejak tahun 1998 oleh Benny Adrianto ini membuat sang anak, Andi Purwono, tertarik di bidang seni kerajinan. Bedanya, jika sang ayah lebih memilih selendang batik sebagai fokus usahanya, Andi lebih menyukai kerajinan wayang golek.

Andi Purwono memegang kepala wayang golek dengan mahkota khas Minang (suntiang).
Foto: (doc/MNEWS).

Dikerjakan sesuai pesanan pelanggan dan dipasarkan dari pameran ke pameran, Djawa Arts & Crafts kini telah memiliki banyak pelanggan setia yang menunggu-nunggu inovasi produk mereka. Dengan rata-rata omzet hingga Rp 80 juta per bulan, Benny dan Andi senantiasa menghasilkan batik dan wayang golek yang unik, jarang ditemui di pasaran.

Dalam pembuatan batik, Benny merancang sendiri konsep seperti apa yang hendak dituangkan di atas sehelai kain. Ia memiliki beberapa pengrajin batik tulis yang siap dengan canting dan malam di workshopnya. Tidak hanya motif batik yang cenderung dekonstruktif dan menggabungkan antara pola tradisional dengan kontemporer, Benny juga melakukan inovasi dengan menggunakan material-material yang langka. Maka tak heran, sehelai selendang batik yang diproduksinya dijual dengan kisaran harga Rp 1,5 juta hingga Rp 5 juta.

Material kain yang digunakan pun beraneka ragam, mulai dari gabungan antara bulu domba cashmere dengan sutra yang menghasilkan warna unik, kain dari serat biji kapuk, sutra dari kepompong, papersilk atau sutra kertas, hingga kain organdi yang teksturnya kaku. Gabungan antara material dengan batik yang ditulis di atasnya menghasilkan keselarasan yang sarat makna dan cerita.

Mengusung motif kontemporer tanpa menghilangkan pakem adalah konsep yang ditawarkan oleh Djawa Arts & Crafts. Mulai dari perpaduan antara motif batik tradisional dengan batik shibori dari Jepang dengan teknik khusus yang cukup rumit, warna tiga dimensi yang muncul dari material sutra Garut, hingga menggabungkan motif Kalimantan dengan gambar kuda yang juga tidak kalah unik.

Detail suntiang pada kepala wayang golek. Foto: (doc/MNEWS).

Menurut Andi, inovasi harus terus dilakukan, agar pelanggan dibuat penasaran. Selain tantangan di material kain yang digunakan dengan tingkat kesulitan tersendiri, tantangan selanjutnya juga bergantung pada mood pembatik yang sangat mempengaruhi. Uniknya, mood pembatik ternyata dipengaruhi pula oleh pola makannya.

Mood si pembatik itu sangat mempengaruhi, kalau mereka makan terlalu banyak atau kurang makan, mempengaruhi mood. Hasil batiknya kurang keluar auranya. Jadi harus dijaga moodnya agar selalu happy. Kalau moodnya bagus, hasilnya aura lebih keluar, kita udah punya feel ketika diupload langsung laku, begitu dipajang langsung laku. Percaya ngga percaya. Akhirnya saya tahu sela-selanya, mulai dari gambar harus keluar feel si pembatik,” jelas Andi kepada MNEWS saat ditemui di workshop Djawa Arts & Crafts di bilangan Pasar Minggu, Jakarta Selatan, beberapa waktu lalu.

Untuk wayang golek, Ia bekerja sama dengan pengrajin wayang di Bandung, Karawang, dan Yogyakarta. Terutama untuk ukiran kepalanya, karena butuh keahlian khusus. Keseriusannya dalam menggarap wayang golek sesuai dengan pesanan tidak main-main, karena menurutnya wayang golek mewakili keseluruhannya. Mulai dari corak kain, perhiasan, dan setiap detail elemennya. Bahkan, Andi mengaku menggunakan ornamen-ornamen antik yang usianya sudah puluhan tahun, agar bisa menyesuaikan dengan karakter wayang yang dipesan.

Andi Purwono bersama wayang golek hasil karyanya. Foto: (doc/MNEWS)

Biasanya, pelanggan sudah mengetahui kualitas dari wayang golek yang dipesan dan bisa meminta detail perhiasan yang digunakan. Misal, request menggunakan perhiasan imitasi atau perhiasan antik. Tentu saja harganya akan berbeda. Biasanya, makin rumit sebuah wayang golek, makin mahal pula harganya.

Dirinya juga menerima banyak masukan dari pelanggan untuk terus mengembangkan hasil karyanya. Untuk pengiriman ke luar daerah hingga ke luar negeri, Ia sudah mendesain packaging yang tahan beban hingga 6 kilogram dan bisa masuk dalam koper. Soal harga, Andi mengaku tidak ingin langsung menembak harga kepada pelanggan yang bertanya. Ia memilih untuk berbagi cerita di balik proses pembuatannya.

“Kita bisa ceritakan motif dan material kainnya. Saya nggak mau sebutin harga, mending saya jelasin cara membuatnya seperti apa, filosofinya apa, dan sebagainya, setelah itu saya sebutkan harganya. Karena, belum tentu orang memiliki uang tapi tahu seni. Kita harus jelasin dari A-Z, dapat materialnya seperti apa ceritanya, baru dikasih tahu harganya,” tandasnya.

Kesungguhan dan ketekunan ayah-anak dalam berkarya di bidang batik dan wayang golek ini dapat dilihat dari inovasi serta orisinalitas karya yang dihasilkan. Tidak hanya terpaku pada pakem-pakem batik dan wayang tradisional, terobosan baru pun terus diciptakan untuk memikat hati pelanggan. Di sinilah kerja keras yang tulus dan kreatif bisa menghasilkan peluang bisnis menguntungkan, sekaligus menekuni hobi yang menyenangkan.

Tentang Penulis
Dewi Fadhilah Soemanagara
Deskripsi penulis tidak tersedia


TAMBAHKAN KOMENTAR

Silahkan Masuk untuk berkomentar.

KOMENTAR

Memuat... Belum Ada Komentar