GO-JEK Wirausaha Bagikan Tips Agar UMKM Naik Kelas

Dewi Fadhilah Soemanagara | 31 Januari 2019, 11:55 WIB

Jakarta, MNEWS.co.id – Pelaku usaha harus punya target yang terukur untuk memajukan usahanya. Pesan tersebut disampaikan Nadiem Makarim, CEO & Founder GO-JEK Indonesia melalui video singkat. Ia menambahkan, capaian target harus jelas, jangan abu-abu. Pelaku usaha juga harus ‘agresif’ agar bisa melampaui target, dan tidak stagnan di posisi yang sama.

Video yang menampilkan pesan Nadiem Makarim tersebut hadir dalam program GO-JEK Wirausaha. GO-JEK mengusung program GO-JEK Wirausaha yang memberikan pembekalan bagi pelaku usaha khususnya UMKM. Ada dua modul, yakni bagi pemula yang belum memiliki bisnis, serta bagi pelaku usaha yang sudah berkiprah dan ingin semakin lincah mengembangkan bisnisnya.

Ternyata, dalam berbisnis pun ada jenjang karirnya. GO-JEK membaginya dalam 4 jenjang, yakni jenjang pertama yaitu Panglima Tanpa Pasukan, dengan penghasilan sampai Rp 1 juta per hari. Kemudian jenjang Manajer Teknis, dengan penghasilan sampai Rp 8,4 juta per hari. Jenjang ketiga yakni Pemilik Sejati, dengan penghasilan RP 167 juta per hari, dan terakhir jenjang investor, dengan penghasilan mencapai Rp 50 miliar per tahun.

Manager Public Affairs GO-JEK, Andit Intasworo mencontohkan, ada beberapa UMKM yang naik kelas semenjak berjualan di GO-FOOD. Ibu Rosie Pakpahan misalnya, pemilik Tahu Jeletot Taisi yang memulai usaha sejak 2013 ini pertama kali berjualan di teras rumahnya, hingga akhirnya sekarang punya 300 gerai. Di tiap gerainya, omzet per bulan mencapai Rp 3 juta.

Contoh berikutnya adalah Edi Sucipto, penjual Pentol Buto di Jawa Timur. Omzetnya sekarang mencapai Rp 400 juta per bulan, dengan 60 gerai yang tersebar di wilayah Jawa Timur. Padahal, dirinya hanya seorang lulusan SMK bidang tata boga. Namun ternyata kesuksesan memang tidak pandang bulu bagi siapapun yang terus berusaha dengan tekun.

“Bagaimana caranya mereka naik kelas? Ini ada rumusnya. Caranya ada 2, yang paling gampang, jual lebih banyak, kemudian yang kedua, atur uang lebih baik,” pungkas Andit dalam acara “UKM Go Online” di Classroom A Jakarta Creative Hub, Rabu, (30/1/2019).

Andit menjelaskan, untuk menjalankan cara yang pertama, yakni menjual lebih banyak, ada serangkaian strategi yang harus dilakukan. Pertama-tama, berkaca dari kisah sukses Ibu Rosie Pakpahan, pelaku usaha wajib untuk memetakan target konsumennya secara spesifik. Ibu Rosie memetakan konsumennya khusus untuk masyarakat menengah ke atas, spesifiknya karyawan kantoran. Selain itu, harus memperhatikan kebersihan dan keindahan keemasan.

Manager Public Affairs GO-JEK, Andit Intasworo, dalam acara “UKM Go Online” di Classroom A
Jakarta Creative Hub, Rabu, (30/1/2019). Foto: (doc/MNEWS).

Berikutnya, sesuaikan keunggulan produk yang dimiliki dengan target pasar. Ibu Rosie disini menonjolkan cita rasa tahu isi pedasnya yang konsisten dan tidak berubah-ubah di setiap gerainya, ada sertifikat halal dan BPOM RI, serta variasi rasa dan tingkat kepedasan yang juga tak kalah penting.

Lalu, Andit melanjutkan, sesuaikan harga dengan daya beli target pasar. Ibu Rosie menjual tahunya dengan harga Rp 2.500 di lokasi seperti di depan SPBU. Sedangkan di dalam mall, produk yang sama dijual seharga Rp 5 ribu karena menyasar masyarakat menengah ke atas yang biasanya beranggapan, semakin mahal harga suatu barang maka akan semakin bagus kualitasnya.

“Keempat, pilih jalur penjualan yang tepat. Bisa dengan direct selling offline yaitu membuat gerai di lokasi strategis, bisa juga dengan indirect selling offline yakni menawarkan kerja sama kemitraan dengan reseller atau waralaba, dan bisa juga secara online, dengan GO-FOOD misalnya,” imbuh Andit.

Pelaku usaha juga harus membuat tagline yang menarik. Tagline Tahu Jeletot Taisi Ibu Rosie disini adalah, “Sensasi Pedasnya Mantap”, karena produknya ingin diperkenalkan kepada masyarakat sebagai tahu yang bisa membuat mata melotot saking pedasnya. Tagline adalah nilai-nilai produk yang akan diperkenalkan kepada konsumen

Selanjutnya, media promosi yang dianggap sangat penting untuk memasarkan produk secara meluas.
“Kenapa penting? Karena mengkomunikasikan apa yang kita punya kepada pengunjung. Cara tradisional bisa dengan brosur atau teriak-teriak menjajakan produk. Sedangkan online bisa dari media sosial dan GO-FOOD,” pungkas pria yang juga mengelola beberapa bisnis serta menjadi investor tambak udang dan perkebunan ini.

Acara yang bekerja sama dengan Pengembangan Kewirausahaan Terpadu (PKT) Kecamatan Tanah Abang dan WOW UKM ini dihadiri oleh puluhan peserta yang bergerak di berbagai bidang usaha. Di antaranya sektor kuliner seperti kebab dan catering, makeup artist, hingga fashion dan kriya.

Tentang Penulis
Dewi Fadhilah Soemanagara
Deskripsi penulis tidak tersedia


TAMBAHKAN KOMENTAR

Silahkan Masuk untuk berkomentar.

KOMENTAR

Memuat... Belum Ada Komentar