Sambut Imlek di Beberapa Kampung Pecinan Legendaris Nusantara

Regina Mone | 01 Februari 2019, 13:33 WIB

Jakarta, MNEWS.co.id - Pecinan atau Chinatown atau Kampung Cina adalah suatu kawasan pada sebuah kota yang mayoritas penghuninya adalah orang Tionghoa. Seperti kita ketahui, China adalah salah satu negara dengan jumlah penduduk terbanyak di dunia, yaitu sekitar 1,3 milyar penduduk. Tak heran bila lalu penduduknya merantau ke berbagai negara lain, termasuk ke Indonesia. 

Kehadiran masyarakat Tionghoa di Indonesia dapat dirunut jauh sejak berabad-abad lampau. Berkembangnya kerajaan-kerajaan di Nusantara membuat para imigran dari Tiongkok berdatangan, khususnya untuk melakukan aktivitas perdagangan. Permukiman-permukiman masyarakat Tionghoa pun bermunculan dan kelak kemudian dikenal dengan sebutan Pecinan. Berikut ini beberapa kawasan Pecinaan ikonik yang bisa dikunjungi untuk liburan Imlek yang dirangkum dari beberapa sumber.


Singkawang, Kalimantan Barat

Singkawang merupakan daerah yang mayoritas penduduknya adalah etnis Tionghoa. Singkawang juga dikenal sebagai “Kota Seribu Kelenteng” karena banyaknya vihara yang ada di kota ini. Singkawang ini menjadi kawasan Pecinan di Indonesia yang paling besar. Hal yang paling menarik dari Singkawang adalah pada saat perayaan Cap Go Meh.  Jadi tidak heran kalau kawasan Pecinan ini menjadi destinasi wisata budaya Tionghoa terpopuler di Indonesia. Setiap tahunnya, Pecinan Singkawang selalu ramai wisatawan, terutama saat perayaan Tahun Baru Cina karena banyak festival budaya yang digelar hanya saat perayaan Imlek.

Di sini juga dapat ditemui Klenteng Tri Dharma Bumi Raya, yang dibangun pada 1878. Ada pula pasar Hongkong dengan beragam makanan khas Tionghoa.

Petak Sembilan, Jakarta Barat
Di balik banyaknya gedung tinggi yang berjajar di ruas jalanan Jakarta, terdapat satu tempat wisata untuk dikunjungi, yakni Pecinan Petak Sembilan yang berlokasi di Jalan Kemenangan III 13, Glodok, Taman Sari, Jakarta Barat. Tempat ini dapat menjadi alternatif tepat bagi yang suka berjalan-jalan namun bosan dengan situasi tempat perbelanjaan.

Selain kental dengan sejarah etnis Tionghoa, Pecinan Petak Sembilan juga memiliki unsur modern yang membuatnya begitu unik untuk dijelajahi. Di sepanjang jalan, kita akan mendapati banyak pernak-pernik lampion merah, mirip dengan yang sering ditemui ketika perayaan Tahun Baru Imlek. Jika berkunjung ke daerah ini, jangan lupa untuk mengunjungi gang Gloria. Di sini kita akan merasakan suasana budaya Tionghoa yang sangat kental di sana, terutama dari sisi kulinernya.

Semawis, Semarang
Jika berkunjung ke Semarang, jangan lupa mampir ke kawasan Warung Semawis di kawasan Pecinan Semarang yang buka setiap hari Jum'at, Sabtu, dan Minggu. Beraneka macam kuliner yang pasti akan menggoda selera. Sebagian pedagang dan pengunjung banyak yang berasal dari keturunan Tionghoa. Makanan yang ditawarkan di kawasan ini terdiri dari aneka jenis menu khas hidangan Tionghoa, Oriental dan juga masakan nusantara.

Tidak hanya menyuguhkan aneka kuliner lezat, kawasan di Kelurahan Kranggan ini juga memiliki warisan budaya Cina yang sangat kental. Keberadaan belasan klenteng baik klenteng marga maupun klenteng umum yang tersebar di gang-gang yang ada, salah satunya Klenteng Tay Kak Sie, yang memiliki arsitektur yang penuh dengan detail indah yang rumit.

Kya Kya, Surabaya
Kya Kya merupakan sebuah pasar malam yang dulu sering diadakan di kawasan Kembang Jepun. Kya Kya sendiri berarti jalan-jalan dan diambil dari bahasa Tionghoa. Kya kya yang berupa pasar malam memang ada di masa lalu. Namun istilah kya kya di Kembang Jepun kini masih ada. Kawasan Pecinan yang satu ini untuk menikmati suasana kuno khas Tiongkok yang ada di sana.

Bagi penggemar bangunan arsitektur kuno, kawasan ini bisa memberikan semua hal tersebut. Jalanan di kawasan sepanjang 700 meter ini seakan mengajak kita untuk kembali ke masa lalu. Di kawasan ini, kita bisa melihat bangunan-bangunan kuno dengan arsitektur Tiongkok, beberapa tempat ibadah dengan ornamen-ornamennya, dan rumah-rumah kuno yang berjajar rapi dengan nuansa klasik yang masih sangat terjaga.

Kampung Sudiroprajan, Solo
Sudiroprajan dulunya merupakan pasar keraton. Namun kini Sudiroprajan telah menjelma menjadi pusat perdagangan dan pemukiman, sekaligus sebagai Pecinan di daerah Solo. Di Kampung Sudiroprajan, kita dapat melihat Kelenteng Tien Kok Sie yang dibangun tahun 1754. Uniknya, Kampung Sudiroprajan ini dihuni oleh sekitar sepuluh ribu orang dari etnis Jawa dan Tionghoa dalam perbandingan yang hampir seimbang. Masyarakat dari etnis yang berbeda ini hidup rukun berdampingan. Kampung Sudiroprajan ini pun menjadi teladan dalam kebhinekaan. Harmonisasi ini pun kian terasa dalam acara tahunan Grebeg Sudiro. Grebeg sendiri adalah tradisi khas Jawa untuk menyambut hari-hari besar di mana puncak acaranya adalah perebutan hasil bumi pada gunungan. Pada acara Grebeg Sudiro, gunungannya disusun dari kue keranjang dan bakpia mbalong yang merupakan makanan khas Cina. 

Tentang Penulis
Regina Mone
Deskripsi penulis tidak tersedia


TAMBAHKAN KOMENTAR

Silahkan Masuk untuk berkomentar.

KOMENTAR

Memuat... Belum Ada Komentar