Ilustrasi Destinasi Wisata. (Foto: Dok. Kemenparekraf)

Jakarta, MNEWS.co.id – Video storytelling dianggap menjadi cara yang efektif untuk mempromosikan dan memperkenalkan nilai-nilai atau makna yang terkandung di setiap destinasi wisata yang ada di Indonesia.

Hal ini disampaikan oleh Deputi Bidang Produk Wisata dan Penyelenggaraan Kegiatan (Events) Kemenparekraf, Rizki Handayani saat Webinar Wisata Heritage bertema Mengangkat Nilai-Nilai Produk Wisata Warisan Budaya Dunia melalui Video Storytelling.

Rizki mengatakan, sangat penting bagi pelaku pariwisata untuk dapat mengangkat nilai-nilai atau daya tarik destinasi wisata yang ada di setiap daerah. Salah satunya dengan penceritaan visual melalui video storytelling.

Webinar tersebut merupakan salah satu bentuk implementasi dari program Kemenparekraf untuk mendiversifikasikan produk pariwisata. Fokus utama saat ini ialah mempromosikan destinasi pariwisata dan memperkenalkan produk-produk pariwisata.

Apalagi pariwisata merupakan sebuah pengalaman yang memiliki nilai atau cerita yang terkandung di balik destinasi wisata yang ada, seperti Subak di Bali.

Sementara itu, Ketua Indonesia Heritage Trust atau Badan Pelestarian Pusaka Indonesia, Catrini Pratihari Kubontubuh mengatakan, Subak tidak hanya sekadar sawah berundak atau irigasi.

Namun, Subak merupakan organisasi petani pengelola irigasi yang bersifat sosio kultural dalam suatu kawasan sawah tertentu, memiliki sumber air, memiliki pura subak, dan bersifat otonom.

“Setiap orang Bali yang bercerita mengenai Subak tentu menggambarkan gunung, sawah, pura tempat sembahyang, dan ada kegiatan manusia. Sebenernya ini adalah inti sari dari Subak,” kata Catrini.

Pertama kali muncul istilah terkait pertanian tertulis pada Prasasti Sukawana di Bangli tahun 882 yang menyebutkan lahan dan pertanian huma (sawah) dan perlak (ladang). Sementara Prasasti Klungkung tahun 1071 dan Prasasti Pandak Bandung (Tabanan) tahun 1072 telah menyebutkan istilah Seuwak yang akhirnya dikenal sebagai Subak.

Pada 29 Juni 2012 UNESCO menetapkan Subak sebagai salah satu dari World Heritage. Uniknya Subak ini tidak ditetapkan sebagai World Heritage bagian dari Nature atau Culture tetapi sebagai bentuk manifestasi dari filosofi Tri Hita Karana.

Filosofi Tri Hita Karana merupakan harmonisasi kehidupan masyarakat Bali yang menekankan kepada tiga aspek penting yaitu Parahyangan: hubungan manusia dengan sang pencipta, Pawongan: hubungan manusia dengan sesama, dan Palemahan; hubungan dengan lingkungan. Hubungan manusia dengan sang pencipta (Parahyangan) menegaskan untuk selalu sujud dan bersyukur terhadap Tuhan, sang pencipta.

1 COMMENT