Motif Batik Pinang Beres. (Foto: Liputan 6)

Tangerang, MNEWS.co.id – Masa pandemi Covid-19 sangat berdampak di berbagai sektor, tak terkecuali di UMKM. Berbagai cara untuk mempertahankan usaha kecil sampai melihat peluang, selalu dicari oleh penggiat UMKM.

Seperti yang dilakukan para penggiat UMKM di Kota Tangerang, tak pantang menyerah menghadapi pandemi yang masih dirasa hingga saat ini. Ada yang mencari celah peluang usaha lain, sampai memiliki ide membuat batik ciri khas daerah asalnya.

“Terpenting, usaha tidak boleh stag, harus tetap bertahan dan jalan. Karyawan harus sama-sama tercukupi, karena kita tidak pernah tahu pandemi ini akan berakhir kapan,” ujar Oktavia D Pratiwi, Owner Hendjico & Batik Pinang Beres yang juga Ketua UMKM Kecamatan Pinang, Kota Tangerang.

Okta menceritakan, bila dulu sebelum pandemi Covid-19, belasan karyawannya di rumah konveksi, biasa menerima pesanan seragam dari berbagai pabrik ternama, sekolah dan perkantoran. Namun, karena pandemi yang membuat semua pekerjaan serta sekolah dilakukan secara daring dari rumah, membuatnya mendadak kehilangan pelanggan.

“Itu terjadi saat Agustus tahun lalu, kita sempat panik juga. Ditambah lagi saat itu kita kebanjiran, air banjir masuk semua ke workshop, makanya harus muter otak lagi, jangan terlalu lama terpuruk,” katanya.

Saat itu, Okta memanfaatkan peluang yang ada. Seperti membuat masker kain, membuat pesanan almamater, sampai akhirnya dia terinspirasi membuat kain Batik ciri khas Kecamatan Pinang, tempat tinggalnya.

Sembari tetap mempertahankan konveksinya, Okta melakukan research mengenai ciri khas Kecamatan Pinang, ikon-ikon yang menggambarkan wilayah yang kental dengan budaya Betawi itu, hingga akhirnya tercetuslah motif Batik Pinang Beres.

“Bentuk motif utamanya adalah buah pinang matang dengan tiga tiga sulur motif turunan. Lalu ada pohon pinang, daunnya, sampai tangkai yang dibuahi pinang. Semua menggambarkan ciri khas Kota Tangerang yang profesional, bersahaja, serta memberikan layanan prima untuk masyarakat,” tambahnya.

Baru beberapa bulan motif batik tersebut lahir, sudah disambut baik oleh pelanggannya. Bahkan sudah laku ratusan kain yang dia jual sudah berbentuk baju jadi sesuai dengan permintaan konsumen setianya.

Menurut Okta, bangkitnya penggiat UMKM di Kota Tangerang, selain dari semangat individunya, juga tidak lepas dari peran pemerintah setempat. Seperti banyaknya program yang mendukung UMKM, seperti pelatihan, pemasaran via online melalui marketplace, dan lainnya.

“Seperti pelatihan, fasilitas kelengkapan seperti HAKI, sertifikat halal, PIRT, BPOM free semuanya gratis. Juga kami diberikan titik gerai untuk penjualan, baik offline ataupun online,” ungkap Okta.

Makanya, sejak awal motif tersebut berhasil dia ciptakan, Okta membandrol harganya pun masih ramah di kantong. Yakni kisaran Rp150 ribu hingga Rp250 ribu sudah jadi dalam bentuk baju sesuai pesanan.