Tampilan produk Sambal Lauk Fau. (Foto: Instagram/mak.fau)

Jakarta, MNEWS.co.id – Bisnis sambal kemasan bisa dibilang merupakan salah satu bisnis bermodal minim dengan potensi untung yang besar. Orang Indonesia yang gemar sekali makan makanan pedas menjadi salah satu peluang utamanya.

Kelihatannya memang sederhana, karena untuk membuat sajian sambal memang tidak terlalu rumit. Tapi sekarang kebanyakan orang lebih suka dengan hal yang serba cepat dan praktis, begitu juga dalam hal mengomsumsi makanan.

Peluang ini dimanfaatkan betul oleh Fauria melalui usaha aneka sambal kemasan yang sudah dijalankannya sejak tahun 2017. Usaha yang bernama Sambal Mak Fau ini, dirintis sejak Ia mengikuti program OK OCE yang diadakan oleh Pemerintah Provinsi DKI Jakarta.

Setelah mendapatkan respon yang positif dari para pelanggan, Fauria pun memutuskan untuk menjalankan usaha aneka sambal kemasan. Awalnya, Fauria memproduksi dua varian yaitu sambal pete teri jengkol dan kinca durian. Namun karena bahan baku yang susah dicari karena musiman dan tidak semua pelanggan suka, Ia pun menambahkan isi varian rasa mulai dari teri medan, cakalang suwir, sambal kecombrang, sambal cumi asin, sambal ikan jambal, sambal lado ijo minang, sambal udang rebon, sambal bawang, sambal ikan bilih, dan sambal ikan roa.

Untuk kemasan, produk Sambal Mak Fau dikemas dalam bentuk botol yang simpel sehingga bisa dijadikan oleh-oleh dan hadiah dengan berbagai macam isian. Oleh karena itu, produknya dinamakan Sambal Lauk.

“Sambal lauk ini bukan hanya sambal, tapi memang sudah ada isian lauk di dalamnya,” kata Fauria kepada M-News.

Fauria menggunakan bahan baku cabai dan bawang segar yang dibeli dari pasar tradisional serta tidak memakai bahan pengawet dengan daya tahan produk yang bisa mencapai 3 sampai 6 bulan.

Tampilan produk Sambal Lauk Mak Fau. (Foto: Instagram/mak.fau)

Untuk produksi, Sambal Lauk dibuat berdasarkan permintaan pesanan (made by order). Sehingga Fauria tidak membuat dalam keadaan banyak hanya sekitar 3kg hingga 5kg. Sambal Lauk Mak Fau juga menghadirkan menu lainnya seperti pempek, tekwan, nasi bakar, burger, dan lainnya.

Untuk strategi pemasaran, saat ini Fauria menjualnya secara offline yaitu dengan membawa produknya saat mengikuti pelatihan serta bazaar UMKM. Selain itu Ia juga memiliki outlet yang terletak di Thamrin 10, Kebon Sirih, Jakarta Pusat.

Sementara untuk penjualan online, produknya dipasarkan melalui media sosial Instagram, Facebook, WhatsApp, Google My Business, serta marketplace melalui Indonesia Mall. Fauria mengakui dirinya selalu belajar untuk mendalami ilmu digital marketing melalui bantuan sang anak atau teman yang ahli di bidangnya.

Fauria menceritakan pada masa pandemi, Ia juga beralih menjual produk buah-buahan dan mengalami peningkatan penjualan. Namun sejak adanya PSBB dan new normal, produk tersebut mengalami penurunan dan Ia memutuskan untuk tetap fokus pada produk Sambal Lauk.

Selama masa PSBB berlangsung, Fauria mengikuti pelatihan untuk meningkatkan personal branding. Hingga akhirnya, pada Desember 2020 produk Sambal Lauk Mak Fau memiliki sertifikasi dari Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP), sertifikat CHSE (Clean, Health, Safety, dan Environment) dari Kemenparekraf, hingga mendapatkan penghargaan UMKM Terbaik dari Kimia Farma. Saat ini Ia juga bergabung sebagai mentor di platform Wiranesia Foundation.

Ke depannya, Fauria berharap dapat fokus mengembangkan usahanya dengan berjualan secara offline dan online, serta dapat melakukan diversifikasi produk dengan menambahkan aneka lauk hingga cemilan tradisional.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here