Gerak Cepat OJK Luncurkan Stimulus untuk Tangkal Dampak COVID-19. (Foto: Muhammad Adimaja/Antara Foto)
Gerak Cepat OJK Luncurkan Stimulus untuk Tangkal Dampak COVID-19. (Foto: Muhammad Adimaja/Antara Foto)

Jakarta, MNEWS.co.id – Perang dagang global belum berakhir, kini, ekonomi dunia terhentak dengan pandemi virus Corona (COVID-19) yang telah menjangkiti 121 negara dengan korban yang terpapar sebanyak 156.520 orang di seluruh dunia (data per Minggu 15/3/2020).

Selain sektor industri, Corona juga telah meluluhlantakkan pasar saham, ditambah dengan potenso kenaikan kredit macet, serta gagal bayar para debitur di dunia, termasuk di Indonesia.

Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati sudah menjelaskan bahwa dampak dari meluasnya virus Corona terhadap kegiatan ekonomi akan lebih kompleks dibandingkan krisis ekonomi global pada 2008, yang disebabkan kebangkrutan bank investasi AS, Lehman Brothers.

Hal itu karena Corona langsung menginfeksi manusia yang menggerakkan sektor-sektor ekonomi riil. Berbeda dengan krisis ekonomi global di 2008 yang dalam jangka pendek hanya berdampak ke industri jasa keuangan.

Corona telah membuat pabrik memperlambat kegiatan produksi, menghambat transportasi masyarakat, dan menutup aktivitas sosial massa.

Dengan rantai gejala seperti itu, sejauh ini, Pemerintah mengidentifikasi pariwisata dan manufaktur menjadi dua sektor industri yang paling terpukul dari wabah virus Corona.

Penutupan akses penerbangan ke dan dari beberapa negara terjangkit membuat industri pariwisata Indonesia menjadi terdampak.

Di industri manufaktur, lumpuhnnya ekonomi China membuat pasokan bahan baku tersendat. Sementara mencari pengganti China untuk mensubstitusi bahan baku tidaklah mudah, dan akan berbiaya mahal.

Dari sektor pariwisata, pelaku usaha yang paling rentan dengan dampak Corona adalah Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM). UMKM merupakan sektor usaha yang memiliki kontribusi signifikan terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) dan berada di garis terdepan perekonomian.

Di sektor pariwisata, mayoritas pelaku usaha adalah UMKM. Mereka terpukul dengan berkurangnya kunjungan turis, minimnya perhelatan acara besar, hingga sulitnya mendapat pasokan barang.

Oleh karena itu, kemampuan mereka dalam memenuhi liabilitas atau kewajiban, seperti misalnya pembayaran kredit akan menurun.

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Republik Indonesia langsung mendeteksi hal tersebut. OJK yang merupakan lembaga pengawas dan pengatur jasa keuangan bergerak cepat merespon dengan mengeluarkan relaksasi kepada perbankan untuk melonggarkan kewajiban bayar kepada pelaku UMKM.

Pada Jumat (15/3/2020), OJK memberi keleluasaan bagi perbankan untuk segera merestrukturisasi kredit UMKM. Relaksasi itu dapat berupa penundaan membayar pokok utang dengan mendahulukan bayar bunga, atau sebaliknya.

OJK juga mempersilakan perbankan dalam memilah sektor UMKM yang menjadi prioritas untuk diberikan restrukturisasi kredit tersebut.

“Apakah pokok dan bunga (utang/kredit), silakan. Sektor silakan saja, apabila berdampak, sektor apapun bisa diberikan kemudahan itu,” ujar Ketua Dewan Komisioner OJK, Wimboh Santoso.

Wimboh mengatakan jika total kredit UMKM di Indonesia mencapai Rp1.100 triliun.

Ini bukanlah stimulus pertama yang diberikan OJK untuk menangkal dampak Corona ke perekonomian. Awal Maret 2020, OJK juga telah memberikan relaksasi pengaturan mengenai penilaian kualitas aset kredit.

Pelonggaran diberikan untuk debitur terdampak penyebaran virus Corona dengan pinjaman plafon sampai dengan Rp10 miliar.

Dari tiga pilar, yakni prospek usaha, kinerja debitur, dan kemampuan bayar debitur, regulator hanya menghitung ketepatan dalam membayar angsuran. Ini artinya, dua pilar yang lain diabaikan sementara waktu.

Kebijakan ini diharapkan dapat memberi waktu tambahan kepada pelaku usaha untuk menuntaskan kewajiban utangnya. Pelaku usaha yang memiliki pinjaman di bawah Rp10 miliar, mayoritas adalah pelaku usaha yang termasuk dalam sektor UMKM.

Jika kredit dengan plafon maksimal Rp10 miliar diberikan relaksasi kolektibilitas kredit, maka untuk kredit di atas Rp10 miliar, OJK memberi kemudahan restrukturisasi bagi pelaku usaha.

“Kalau di atas Rp10 miliar, direstrukturisasi saja. Langsung lancar, sehingga nanti bisa dikasih lending (kredit) lagi sehingga mereka bisa bernafas lebih panjang,” ujar Wimboh.

Tekanan terhadap dunia usaha ini juga sebelumnya dikonfirmasi oleh Ketua Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia Rosan Perkasa Roeslani.

Rosan sempat mengusulkan agar para pelaku usaha khususnya yang terdampak virus Corona bisa dimudahkan dengan pembayaran utang terlebih dahulu dibanding iuran pokok di tengah dampak mewabahnya COVID-19.

Ia mengusulkan relaksasi pembauran kredit tersebut dilakukan hingga sembilan bulan ke depan atau pada Desember 2020.

Beberapa sektor usaha yang direkomendasikan mendapatkan stimulus, di antaranya perhotelan, lalu jasa penyelenggara acara (event organizer), bisnis restoran, dan maskapai penerbangan.