Ilustrasi. (Foto: bing.com/images)
Ilustrasi. (Foto: bing.com/images)

Jakarta, MNEWS.co.id – Tidak dapat dipungkiri jika saat ini generasi milenial sudah menjadi topik pembicaraan di kalangan masyarakat, karena generasi ini memiliki karakteristik dan gaya hidup yang unik. Generasi milenial juga sudah mulai memasuki usia produktif yang artinya, sudah semakin banyak dari generasi ini yang terjun ke dunia kerja.

Namun di sisi lain banyak generasi milenial yang menjadi pengangguran. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat bahwa jumlah pengangguran di Indonesia pada bulan Agustus 2018 mencapai 7 juta orang. Angka tersebut setara dengan 5,34 % dari jumlah angkatan kerja di Indonesia yang tercatat sebesar 131,01 juta orang.  88,43 juta orang di antaranya merupakan pekerja penuh, 27,37 juta orang tergolong pekerja paruh waktu, dan 8,21 juta orang lagi merupakan setengah pengangguran. 

Hal yang sama juga disampaikan oleh Mia Marianne selaku Head Hunter & Pengembangan SDM Imsearchlight Recruitment Consultant Trainer, yang menyatakan bahwa saat ini cukup banyak generasi milenial yang asal bekerja tidak sesuai dengan latar belakang pendidikan dan hal tersebut mereka jadikan sebagai batu loncatan.

“Banyak juga saat ini 67 % mahasiswa itu kerja asal kerja dan menjadi hal tersebut sebagai batu loncatan. Bahkan tidak sedikit “karyawan” yang sudah bekerja namun tetap mencari pekerjaan lain. Karena tiap tahunnya ada 2 juta angkatan baru yang siap kerja dan itu untuk lulusan sarjana belum untuk lulusan SMK, jadi memang tiap tahun yang tidak kerja itu banyak banget,” ujarnya kepada tim MNews dalam acara Kelas Komunitas Sahabat UMKM di Jakarta Creative Hub, Jumat (23/8/2019).

Mia Marianne, Head Hunter & Pengembangan SDM Imsearchlight Recruitment Consultant Trainer di acara Kelas Komunitas Sahabat UMKM di Jakarta Creative Hub, Jumat (23/8/2019). (Foto: MNEWS)

 

Mia juga menjelaskan bahwa saat ini generasi milenial dalam mencari pekerjaan memiliki berbagai macam karateristik yaitu seperti menginginkan suasana tempat kerja yang tidak membosankan dan Instagramable, tidak terikat dengan waktu kerja yang office hours serta lebih menyukai bekerja dengan waktu fleksibel, bisa mengerjakan pekerjaan mereka di luar kantor, lebih suka bekerja menggunakan pakaian bebas, dan pastinya menginginkan pekerjaan yang berlangsung dalam jangka panjang.

“Dan kita harus memperhatikan beberapa aktivitas yang diinginkan generasi millenial dalam bekerja ada 7F yaitu feeling, food, follower, fun, fast, fashion, dan flexible,” ungkapnya.

Dirinya juga menambahkan bahwa generasi milenial saat mencari pekerjaan pun memperhatikan beberapa faktor dari perusahaan mulai dari brand yang dimiliki perusahaan tersebut, culture yang ada seperti apa, working condition serta leadership yang ada pada perusahaan tersebut.

Selain itu Mia juga membagikan beberapa tips untuk para rekrutmen dalam mencari kandidat karyawan generasi milenial yaitu menjalin kedekatan dengan kandidat salah satunya dengan mengikuti media sosial yang mereka punya, mengetes talenta yang mereka punya dengan mapping online, melakukan sesi wawancara yang nyaman dan tidak harus di kantor, menentukan waktu wawancara sesuai dengan kemauan kandidat, memberikan pertanyaan yang simple dan tetap berhubungan baik walaupun calon kandidat tidak lolos.

Generasi milenial memang memiliki tantangan tersendiri khususnya untuk para rekrutmen, karena generasi ini mempunyai keunikan tersendiri dan potensi yang tidak boleh diabaikan. Sehingga dalam menghadapi calon karyawan generasi milenial, para rekrutmen bisa melakukan pendekatan yang lebih transparan, mengidentifikasi calon karyawan yang tepat, dan tetap menjaga hubungan baik, dan hal ini adalah cara terbaik untuk menjaga kemampuan para calon pekerja milenial Anda.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here