Kontemplasi Alamiah di ArsTropika, Bawa Pengunjung Berdialektika

Dewi Fadhilah Soemanagara | 15 September 2018, 17:05 WIB

Palangka Raya, MNEWS.co.id – Seni tropis yang menyajikan wacana naturalisme, lekat dengan keindahan alam serta segala sesuatu yang ada di dalamnya. Kehadiran seni tropis yang saat ini kurang terdengar, menjadi tujuan ArsTropika untuk menguarkannya.

Pameran yang diinisiasi oleh Galeri Nasional dengan sejumlah instansi terkait ini, mencoba mengajak pengunjung untuk kembali memikirkan alam. Kontemplasi alamiah tidak hanya berkaitan dengan seni tropis yang berasal dari negara tropis, tetapi juga berkaitan erat dengan situasi geo-kultural Indonesia, khususnya Kalimantan sebagai bagian dari paru-paru dunia.

Suasana ruang Pameran Seni Rupa “ArsTropika” di UPT. Taman Budaya Provinsi Kalimantan Tengah.
Foto: (doc/GNI-Jatiari)

Tingginya kasus kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan memantik keprihatinan tersendiri bagi masyarakat. Namun, masih rendahnya kesadaran untuk menerapkan pola hidup yang ramah lingkungan dan pencegahan kerusakan belum menampakkan hasil yang signifikan.

Pameran ArsTropika yang menampilkan 45 karya seni rupa berupa lukisan, patung dan instalasi hasil olah artistik 30 perupa dari 11 provinsi di Indonesia ini diharapkan tidak hanya menyuguhkan hidangan yang inspiratif, tapi juga edukatif sehingga pengunjung bisa lebih sadar akan pentingnya menjaga lingkungan, yang merupakan bagian dari membangun wacana naturalisme.

Dari kiri: Fahrizal Fitri (Sekretaris Daerah Provinsi Kalimantan Tengah), Sudjud Dartanto (Kurator Pameran ArsTropika), Guntur Talajan (Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Kalimantan Tengah), dan Leres Susanto (Perupa Peserta Pameran) di depan karya Leres berjudul “Batang Danum” dalam Pameran Seni Rupa “ArsTropika” di UPT. Taman Budaya Provinsi Kalimantan Tengah (12/9/2018). Foto: (doc/GNI-Jatiari)

Karya Donny Paul berjudul Reinkarnasi misalnya, mengajak pengunjung untuk mempertimbangkan konsekuensi dari setiap perbuatan yang dilakukan. Reinkarnasi atau t(um)itis setinggi 2 meter yang menggunakan material bamboo ini, merujuk pada kepercayaan bahwa seseorang itu akan mati dan dilahirkan kembali dalam bentuk kehidupan lain. Namun, yang lahir kembali bukan berbentuk fisik, melainkan jiwa orang tersebut yang mewujud sesuai dengan hasil perbuatannya terdahulu.

Karya Donny Paul berjudul “Reinkarnasi” dalam Pameran Seni Rupa “ArsTropika” di UPT. Taman Budaya Provinsi Kalimantan Tengah. Foto: (doc/GNI-Jatiari)

Sementara itu, Lini Natalini Widhiasi dengan karyanya berjudul “Sawah”, menjadi simbol bahasa alam, sebuah ruang dialog antara kesunyian, keindahan, dan kemurahan Tuhan. Melalui karyanya yang menyuguhkan kedamaian ritmis, Lini seakan menganalogikan sawah sebagai permadani surga yang Tuhan bentangkan di Bumi Nusantara, “Aku terpekur atas rasa syukurku,”.

Permainan warna, material, dan kontur dari tiap perupa menyuarakan kegelisahannya masing-masing, entah dalam bentuk kebahagiaan akan apa yang alam suguhkan, maupun rasa kritis terhadap kondisi alam saat ini. Karena, apa yang alam berikan, adalah apa yang manusia tanamkan.

Tentang Penulis
Dewi Fadhilah Soemanagara
Deskripsi penulis tidak tersedia


TAMBAHKAN KOMENTAR

Silahkan Masuk untuk berkomentar.

KOMENTAR

Memuat... Belum Ada Komentar