Sasirangan Bordir, Contoh UMKM Naik Kelas

Regina Mone | 08 Februari 2020, 07:50 WIB

Banjarmasin, MNEWS.co.id - Kementerian Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah (Kemenkop dan UKM) terus mendorong sektor UMKM untuk naik kelas, dari mikro ke kecil, kecil ke menengah. Untuk itu diperlukan kerja sama antara pemerintah pusat, daerah dan sektor swasta dalam mewujudkan program nasional tersebut.

Sasirangan Bordir NDF yang berada di Desa Sungai Tiung, Kecamatan Cempaka, Banjarbaru, Kalimantan Selatan merupakan potret usaha mikro yang terus berkembang dengan dukungan pemerintah daerah yang membudayakan Sasirangan sebagai pakaian dinas serta dukungan BNI sebagai penyalur KUR untuk pembiayaannya.

Sasirangan Bordir NDF menjadi salah satu mitra binaan BNI yang sukses mengembangkan kain sasirangan dengan aplikasi bordir, sesuatu yang membedakan sasirangan Banjarbaru ini dengan sasirangan lain di Kalimantan Selatan.

Menteri Koperasi dan UKM Teten Masduki menjadikan Sasirangan Bordir NDF sebagai contoh UMKM naik kelas. Teten mengatakan, Sasirangan Bordir merupakan industri rumahan, potret usaha mikro yang terus berkembang dengan dukungan pemerintah daerah yang membudayakan sasirangan sebagai pakaian dinas.

"Ini sudah jadi industri rumahan yang berkembang. Tadinya masyarakat di sini pendulang intan. Sekarang pelan-pelan terlibat dalam batik Sasirangan. Permintaannya cukup besar bahkan kurang," kata Menkop dan UKM Teten Masduki, di Banjarmasin, Kalimantan Selatan, Jumat (7/2/2020).

Menurutnya, dengan pembiayaan dari BNI melalui Kredit Usaha Rakyat membuat usaha mikro ini naik kelas menjadi usaha kecil. Pihaknya optimis sektor tersebut akan terus berkembang, dikarenakan market yang selalu dibutuhkan.

"Pembiayaan BNI dengan KUR maksimum 500 juta. Contoh usaha mikro yang berkembang naik kelas. Ini bisa tumbuh terus karena marketnya ada," tambahnya.

Meskipun belum berorientasi ekspor, namun dengan upaya yang dilakukan pemerintah daerah dengan mewajibkan pegawainya menggunakan batik Sasirangan merupakan langkah yang tepat.

"Langkah pemerintah daerah yang mewajibkan pegawainya menggunakan batik sasirangan, ini sudah tepat. Jadi kita gak harus berpikir ekspor," kata Teten.

Menkop dan UKM mengharapkan adanya pengembangan produk melalui riset dan development kerja sama dinas UMKM dan BNI. Agar produk yang dihasilkan disesuaikan selera pasar serta desain baru.

"Harus dikembangkan riset and development-nya. Mengembangkan produk desain baru disesuaikan dengan selera. Karena UMKM rata-rata tidak punya riset. Kerja sama dengan dinas, BNI. Terus mengembangkan bukan hanya desain tapi juga development produk," ujarnya.

Selain itu, kata Teten, harus mulai dirubah pewarna yang selama ini menggunakan bahan kimia, ke bahan alam. Karena di wilayah Kalimantan diakui memiliki kekayaan yang luar biasa dalam hal pewarna alami.

"Diusahakan bahan motif pewarna. Ini masih pakai kimia. Kedepan dipikirkan alam. Di Kalimantan banyak pewarna alam. Suku Dayak punya pengetahuan banyak tentang itu," tambahnya.

Tentang Penulis
Regina Mone
Deskripsi penulis tidak tersedia


TAMBAHKAN KOMENTAR

Silahkan Masuk untuk berkomentar.

KOMENTAR

Memuat... Belum Ada Komentar