Pengrajin Sapu lidi. (Foto: ANTARA)

Banten, MNEWS.co.id – Usaha sapu lidi di Kabupaten Lebak, Banten, masih tumbuh untuk menggerakkan ekonomi kecil, dan membantu para perajin agar mampu bertahan dari ancaman kemiskinan.

“Kami merasa terbantu ekonomi keluarga dengan pendapatan rata-rata Rp450 ribu per pekan,” kata Cicih (50) yakni seorang perajin sapu lidi warga Rangkasbitung Kabupaten Lebak, dikutip dari Antara.

Cicih mengatakan selama 10 tahun menjadi perajin sapu lidi, kehidupan ekonomi keluarganya menjadi lebih baik, karena usaha ini mampu mencukupi kebutuhan pangan sehari-hari.

Sebelumnya, sebagai buruh tani, dirinya kesulitan untuk makan karena upah yang diterima relatif kecil, bahkan terkadang menganggur apabila tidak ada lahan garapan. Namun, setelah beralih profesi menjadi perajin sapu lidi, Cicih yang mampu memenuhi produksi sebanyak 300 ikat per pekan dengan harga Rp1.500 per ikat, tidak lagi kesulitan dalam memenuhi kebutuhan beras dan lauk pauk.

“Kami mampu membiayai dua anak dan tiga cucu dari hasil perajin sapu lidi itu,” kata Cicih.

Sementara itu, Anah (55) yang merupakan warga Desa Rangkasbitung Timur, Kabupaten Lebak, juga menggeluti perajin sapu lidi karena profesi ini membantu ekonomi keluarga agar tidak mengalami kerawanan pangan.

Ia mengatakan profesi ini mampu mengatasi kemiskinan dan memberikan lapangan pekerjaan bagi warga setempat yang sebelumnya kebanyakan bekerja serabutan dan menjadi buruh tani. “Kami dan puluhan perajin di sini setiap hari memproduksi sapu lidi dan menghasilkan pendapatan Rp450 ribu per pekan,” kata Anah.

Hal yang sama juga dikatakan oleh Oman (55) selaku warga Rangkasbitung, Kabupaten Lebak, mengaku mampu menampung sapu lidi dari perajin untuk membantu perekonomian masyarakat yang kebanyakan tinggal di pemukiman berdekatan dengan PTPN VIII Cisalak Baru Rangkasbitung.

Para perajin sapu lidi tersebut mendapatkan bahan baku dari limbah pelapah kelapa sawit yang berusia tua dan telah dipotong oleh petugas perkebunan. Kemudian, produksi dilakukan perajin, yang sebagian besar merupakan kaum ibu-ibu, di bale-bale rumah.

Menurutnya, produksi sapu lidi dipasok ke sejumlah pasar di DKI Jakarta antara 5.000 sampai 6.000 ikat per pekan dengan harga jual Rp2.200 per ikat.

 Para pembeli itu merupakan langganan tetap di kios-kios eceran dan selama lebih dari 20 tahun telah menerima produksi sapu lidi dari Rangkasbitung, Kabupaten Lebak. Saat ini, meski ada pandemi covid-19, permintaan sapu lidi relatif stabil, sehingga kegiatan ekonomi para perajin tidak terganggu dalam kondisi sulit seperti sekarang.

“Kami tetap bertahan usaha ini, karena untuk membantu ekonomi para perajin sapu lidi itu,” ujar Oman. 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here