Kisah Selat Viens Pertahankan Kuliner Tradisional Solo

Dewi Fadhilah Soemanagara | 29 Januari 2019, 16:25 WIB

Jakarta, MNEWS.co.id – Selat Solo, hidangan khas Surakarta yang merupakan perpaduan dari hidangan Eropa dan Jawa ini memiliki cita rasa yang unik. Masakan satu ini merupakan gabungan dari salad dan steak. Bistik dengan cita rasa manis dan gurih dipadukan dengan aneka sayuran segar ini pada awalnya hanya bisa dinikmati di lingkungan kerajaan atau pada momen-momen tertentu saja.

Hal inilah yang memotivasi salah satu pelaku UKM Solo, Selat Viens, untuk menyajikan hidangan khas Selat Solo yang nikmat dengan harga terjangkau. Mulai dari harga Rp 11 ribu saja, pengunjung sudah dapat menikmati sepiring Selat Solo dengan cita rasa autentik.

Selat Viens merupakan usaha kuliner keluarga di Solo yang kini dikelola oleh pemiliknya Serra Rienda, menawarkan makanan tradisional Selat Solo yang telah dibangun sejak tahun 2006. Berawal dengan hanya satu outlet di Solo, usaha yang masih berjalan konvensional tersebut dijalankan oleh ibu dari Serra Rienda dan almarhum ayahnya, dengan tujuh karyawan.

Awal terbentuknya Selat Viens ini menurut Serra Rienda, bukan karena keluarganya ingin menciptakan keuntungan bisnis semata, melainkan karena ibu kandungnya sendiri yang ingin menghadirkan solusi kuliner bagi masyarakat Solo karena pada awalnya, Selat Solo hanya bisa ditemukan di acara resmi seperti pernikahan dan pengajian.

Saat ini, bisa dibilang bisnis kuliner Selat Solo terus berkembang dan memiliki banyak pesaing. Namun Selat Viens mampu membuktikan posisinya untuk tetap bertahan karena keunikan resep dan juga pemanfaatan teknologinya sehingga proses transaksi menjadi lebih cepat.

Serra Rienda, pemilik Selat Viens. Foto: Moka.

Sebagai anak kandung pertama, Serra Rianda turut membantu mengurus bisnis keluarga dengan tetap berkuliah di Universitas Gajah Mada (UGM), dan juga bekerja selama 6 tahun sebagai pegawai swasta dengan jabatan menjanjikan, hingga akhirnya memutuskan untuk keluar dan mengembangkan bisnis keluarganya. Serra Rienda memutuskan untuk mengembangkan bisnis Selat Viens dan berhasil melakukan ekspansi hingga 7 outlet di Solo hanya dalam waktu 1,5 tahun.

Dulu, semasa masih belum menggunakan teknologi aplikasi kasir Moka yang dapat membantu mengawasi bisnisnya secara real-time, toko Selat Viens harus ditutup oleh sang Ibu ketika ada acara di luar, karena belum percaya dengan karyawannya. Sekarang dengan menggunakan teknologi yang serba digital, Ia mampu mengawasi bisnis yang dimiliki dengan mudah dari manapun dan kapanpun. Ia dengan mudah mendapatkan laporan analisis lengkap mengenai produk apa yang laku.

Hal ini sejalan dengan data penelitian Google dan Deloitte yang menyebutkan bahwa dengan pemanfaatan teknologi, pelaku UKM dapat meningkatkan 80% pendapatan bisnisnya, serta 1,5 kali memiliki kesempatan lebih besar untuk membuka lapangan pekerjaan baru.

“Sebelum resign, saya bilang ke ibu saya, percaya atau tidak dengan keterlibatan saya sepenuhnya untuk mengurus bisnis ini, karena jika ibu percaya saya langsung ajukan untuk manfaatkan teknologi. Bahkan saya sekarang tidak berani buka cabang kalau belum pakai sistem aplikasi kasir ini,” ujar Serra Rienda.

Dengan kemudahan teknologi, Ia mampu menjalani bisnis dan tetap memberikan inovasi produk tanpa harus kekurangan waktu untuk menyelesaikan pendidikan S2 Magister Manajemen di UGM. Selain itu untuk operasional bisnis sehari-hari, pemilik Selat Viens juga memanfaatkan fitur ingredient inventory yang dapat membantu pengaturan stok bahan baku yang digunakan dalam mempersiapkan menu, sehingga keputusan untuk pembelian ulang kepada supplier atau kepada vendor dapat dilakukan dengan cepat dan tepat. Terlebih lagi, fitur dashboard report pada yang secara otomatis dapat menarik data laporan penjualan dari berbagai sumber, termasuk tagihan dan penjualan dari food-delivery.

Tidak dapat dipungkiri, dengan jumlahnya yang menyentuh lebih dari 90% dari total usaha yang ada di Indonesia, UKM mampu memberikan kontribusi yang signifikan bagi perekonomian Indonesia. Perlu bagi UKM Indonesia untuk mengaplikasikan teknologi dalam bisnisnya, mengingat pemanfaatan teknologi dapat membantu efisiensi dan produktivitas bagi pelaku bisnis agar dapat naik kelas dan terus bersaing di bidangnya.

Tentang Penulis
Dewi Fadhilah Soemanagara
Deskripsi penulis tidak tersedia


TAMBAHKAN KOMENTAR

Silahkan Masuk untuk berkomentar.

KOMENTAR

Memuat... Belum Ada Komentar