Ilustrasi. Foto: KC Hawaii.
Ilustrasi. Foto: KC Hawaii.

Banyuwangi, MNEWS.co.id – Khatibin, owner Kejaya Handycraft membuka usaha berbagai kerajinan tangan, salah satunya bra atau kutang dari batok kelapa yang laris-manis diekspor ke mancanegara. Ibien (panggilan akrab Khatibin), membuka usaha ini pada 1998 bersama almarhum kakaknya Achmad Fatoni.

“Sampai harus bolak balik Banyuwangi-Denpasar untuk bisa memasarkan produk, kami hubungi toko-toko mainan hanya untuk menitipkan barang saja. Lama kelamaan, kami bertemu dengan Mr Depak, warga negara India yang memilki jaringan pemasaran mancanegara,” kisah Ibien pada Senin, (28/1/2019) dilansir dari siaran pers Kementerian Koperasi dan UKM.

Berbekal pengetahuan dan kreativitas seni, Ibien mengekspor bra atau kutang berbahan baku batok kelapa ke Pulau Tahiti, sebuah pulau terbesar di Polinesia Perancis, terletak di Kepulauan Society, di bagian selatan Samudra Pasifik. Selain itu, produk bra batok juga dikirim ke Jamaika di Amerika Utara.

“Lumayan jumlahnya bisa puluhan ribu. Tergantung order yang diberikan ke saya. Produksi bra dari batok atau tempurung kelapa sebulan mencapai 5-10 ribu bra dipesan buyer Amerika, Jamaika, Hawaii dan Perancis. Harga grosirnya saya jual Rp10 ribu per pasang. Bra ini tidak sakit kalau dipakai karena sudah saya buat senyaman mungkin,” ujar pria yang berkumis dan berjenggot lebat ini.

Menkop Puspayoga meninjau pelaku UKM di Banyuwangi, salah satunya Ibien dari Kejaya Handycraft, pada
Senin, (28/1/2019). Foto: Kemenkop UKM

Diakuinya, kinerja dan masa depan bra batok kelapa Ibien bergantung dari Mr Depak, warga negara India yang menjadi penghubung Ibien dengan buyer-nya di Pulau Tahiti dan Jamaika.

“Mr Depak ini orang kepercayaan pembeli produk saya. Semua urusan pesanan diserahkan ke dia. Saya sendiri jarang ketemu dengan orang yang menjadi buyer,” aku Ibien.

Di luar negeri, hasil kerajinan Kejaya Handicraft banyak diekspor ke Amerika dan Eropa. Sebab, beberapa negara di Amerika dan Eropa menyukai kerajinan dari bahan-bahan alami. “Untuk Asia, kami kurang punya pasar. Seperti di Jepang dan Arab Saudi tak menyukai bahan alami,” imbuhnya.

Ibien mengakui menjadi eksportir kadang juga mengalami kerugian karena beberapa kali ia mengirim barang ke buyer namun tidak dibayar.

“Dalam beberapa tahun terakhir ini saya juga intensif menggarap pasar dalam negeri melalui produk-produk baru seperti gantungan minyak wangi.berbahan dasar akar agel, tas dari pelepah daun pisang dan janur dan lain lain,” jelasnya.

Ragam produk handycraft itu ternyata juga diminati pasar domestik. Penjualan produk pun dibagi oleh Ibien menjadi 60 persen domestik dan 40 persen ekspor.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here