Kisah Pemilik Kacang GDR Raih Kesuksesan dengan Mendobrak Pola Dagang

Regina Mone | 01 Juli 2019, 17:50 WIB

Batusangkar, MNEWS.co.id - Bagi sebagian besar orang yang ingin mendirikan usaha, modal adalah faktor utama yang harus ada, karena tanpa modal, kecil kemungkinan sebuah usaha bisa bergerak, apalagi tumbuh besar.

Meminjam dana dari pihak ketiga menjadi pilihan yang lumrah diambil agar usaha secepatnya bisa berjalan dan cepat berkembang.

Namun, pemikiran seperti itu ternyata tidak mutlak. Ada beberapa orang yang tidak terlalu memusingkan soal modal untuk memulai usaha. Dengan anggaran seadanya, mereka memulai usaha dari nol dan akhirnya bisa memetik buah manis kesuksesan.

Salah satunya adalah Kemrizal Sutan Mudo, pengusaha kacang sukro asal Tanah Datar, Sumatera Barat. Laki-laki paruh baya itu memulai usahanya saat masih tinggal di rumah orang tuanya di Koto Tuo Tanah Datar pada 1993. Modalnya hanya uang seharga satu kilogram kacang, satu kilogram tepung tapioka serta bumbu.

Namun, dengan semangat pantang menyerah dan terus mempelajari selera pasar, usaha yang kemudian diberi merk dagang GDR itu terus berkembang sedikiti demi sedikit. Saat ini kacang GDR memiliki 20-an orang tenaga kerja yang bisa mengolah satu ton kacang dan tepung per hari sesuai permintaan konsumen. Bahkan omzetnya dalam setahun bisa mencapai Rp8 miliar.

Kemrizal bercerita saat awal merintis usahanya, produk yang dihasilkan masih sangat sedikit. Ia harus mengantarkan sendiri produknya ke kedai-kedai di Bukittinggi, Padangpanjang dan Sicincin Padang Pariaman. Hasilnya terus diputarkan untuk produksi selanjutnya.

Pada masa itu Ia berusaha mempelajari selera pasar, terutama terkait rasa dan kemasan kacang sukro yang paling dinikmati. Cukup banyak kacang buatannya yang tidak laku karena rasanya tidak disukai konsumen. Namun, ia tidak patah semangat. Kemrizal kemudian kembali berinovasi, mengganti resep dan rasa yang lain.

Setidaknya ia membutuhkan waktu lima tahun untuk belajar tentang selera pasar hingga benar-benar yakin ada satu rasa yang sangat diminati konsumen. Diperlukan 20 tahun lebih hingga usahanya berkembang pesat seperti saat ini.

“Saya ingin membagi pengalaman itu kepada semua orang, terutama generasi muda bahwa modal utama untuk memulai sebuah usaha itu tidak selalu harus modal yang besar. Semangat dan keinginan untuk terus belajar juga bisa menjadi tiang utama keberhasilan sebuah usaha,” katanya.

Proses belajar itu menurutnya seperti pepatah Minang, “Alam Takambang jadi Guru”, bisa dari mana saja. Baik berguru atau otodidak. Begitu menghargai proses belajar tersebut, setiap kali diundang pelatihan oleh pemerintah daerah, Kemrizal pasti antusias utnuk ikut, meski untuk itu ia harus menunda proses produksi.

Ia meyakini setiap kali mengikuti pelatihan akan ada sedikit banyaknya ilmu baru yang didapat. Hingga sekarang, setelah usahanya sukses, jika diundang pelatihan, ia akan tetap datang.

Di situlah letaknya peran pemerintah dalam mendukung usaha mikro agar bisa berkembang dan menggerakkan perekonomian daerah.


Merombak Pola UKM

Salah satu pola dagang untuk usaha mikro dan kecil di Sumatera Barat yang identik dengan Minangkabau, adalah sistem piutang. Pemilik produk “harus” merelakan barangnya dibawa oleh pedagang dengan sistem piutang. Pembayarannnya bisa seminggu, sebulan bahkan lebih. Malangnya, tidak jarang pemilik produk harus gigit jari karena barangnya tidak terbayar, sementara beban produksi terus harus ditanggung.

Sistem itu menjadi salah satu faktor yang membuat usaha mikro dan kecil di Sumbar sulit berkembang. Bahkan lebih banyak yang kemudian mati sebelum berkembang. Namun, pola itu sudah menjadi kebiasaan sehingga hampir semua usaha mikro dan kecil di provinsi tersebut terjebak dalam pola dagang itu.

Kemrizal berupaya merombak pola dagang tersebut. Ia meyakini jika ikut terjebak dalam pola itu, usahanya akan mati sebelum berkembang. Karena itu, sejak awal ia membalik pola dagang itu 180 derajat.

Bila sebelumnya pedangan membawa barang dengan sistem piutang, maka Ia mengharuskan pedagang memberikan deposit sebagai syarat untuk bisa mengambil barang. Artinya, semua barang yang diambil pedagang itu harus dibayar lunas.

Pola yang bertolak belakang dengan kebiasaan itu awalnya mendapatkan tantangan dari pedagang, bahkan banyak yang mencimeeh atau mencela. Tetapi, ia tetap bertahan karena yakin produknya diinginkan oleh pasar.

Akhirnya, seluruh pedagang yang ingin mengambil kacang sukro produksi GDR mengikuti aturan main tersebut hingga saat ini. Kadang dalam satu waktu, ada belasan pedagang yang memasukkan deposit untuk mengambil produk, sehingga bagian produksi menjadi kewalahan, padahal telah menggunakan sembilan mesin.

Kemrizal yakin, jika semua usaha menerapkan pola deposit seperti yang dilakukannya, akan semakin banyak usaha mikro yang naik pangkat jadi usaha kecil dan menengah di Sumbar.

Dia menilai perlunya regenerasi dalam usaha agar bisa terus berkembang. Orang Minang banyak yang menjadi pedagang dan sukses, tetapi sulit untuk masuk dalam jajaran orang terkaya di Indonesia. Salah satu faktornya adalah ketiadaan proses regenerasi sehingga usaha yang dibangun hanya sukses pada satu generasi saja, setelah itu mati.

Sebagian besar anak-anak pemilik usaha keturunan Minang, lebih memilih sukses dengan jalannya sendiri, tidak dengan melanjutkan usaha orang tua. Padahal, usaha yang berlanjut dari satu generasi ke generasi berikutnya itu memiliki potensi besar untuk terus tumbuh menjadi usaha besar.

“Ini harus menjadi perhatian juga. Jangan malah malu untuk melanjutkan usaha orang tua. Itu pikiran yang keliru,” katanya.

 

Sumber: Antara

Tentang Penulis
Regina Mone
Deskripsi penulis tidak tersedia


TAMBAHKAN KOMENTAR

Silahkan Masuk untuk berkomentar.

KOMENTAR

Memuat... Belum Ada Komentar