Berkat Siomay, Bisa Sekolahkan Anak Sampai Bulgaria

Dewi Fadhilah Soemanagara | 30 Oktober 2018, 12:04 WIB

Jakarta, MNEWS.co.id – Jajanan siomay dan batagor mungkin sudah tidak asing lagi di telinga kita. Siomay yang berasal dari negeri Tiongkok ini punya beberapa sebutan, antara lain shaomai dalam bahasa Mandarin, siu maai dalam bahasa Kanton, dan masih banyak lagi.

Siomay mengalami modifikasi bentuk dan rasa sesampainya di Indonesia, karena isinya menggunakan bahan dasar daging ikan tenggiri, ayam, hingga udang. Dalam penyajiannya juga dibarengi dengan sayuran seperti kol, pare, kentang, dan tahu yang sudah diisi dengan isian siomay.

Demikian pula dengan batagor, yang juga dikenal dengan bakso tahu goreng. Makanan khas Bandung yang terdiri dari tahu berisi adonan bakso kemudian digoreng, diberi kuah kacang atau kuah bakso ini biasanya disajikan berdampingan dengan siomay. Baik siomay maupun batagor, keduanya menjadi jajanan lezat terjangkau dengan kandungan gizi yang sarat protein dan nutrisi lainnya.

Siang itu terasa terik, namun tak menyurutkan semangat Pak Edy menjajakan siomay dan batagornya. Saat tim M-News menyambangi kios siomaynya di bilangan Blok S, Jakarta Selatan, lelaki paruh baya itu menyambut dengan ramah dan hangat, sehangat dandang kukusan yang masih mengebulkan uap aroma olahan ikan tenggiri.

Sembari duduk-duduk di teras sebuah sekolah di depan tempatnya berjualan, Pak Edy bercerita kisah hidupnya. Awal mula perjalanannya, sebelum akhirnya menekuni untuk menjajakan siomay dan batagor, hingga jatuh bangun usahanya yang telah dirintis selama 24 tahun. Menurutnya, usianya yang kini sudah lebih dari setengah abad, tak menyurutkan semangatnya untuk tetap menyuguhkan yang terbaik bagi lidah para pelanggan setianya.

Pak Edy saat diwawancara tim MNews. Foto: (doc/MNEWS)

“Semangatnya mah, masih semangat anak muda lah. Semangat mesti terus tinggi. Ingat kebutuhan keluarga, bersyukur alhamdulillah saya. Istilahnya, bisa diberi kemampuan untuk menyekolahkan anak-anak,” ujarnya sembari tersenyum, ketika ditanya mengenai motivasinya memulai usaha berjualan siomay ini.

Lelaki kelahiran Majalengka, Jawa Barat itu, menempuh berbagai lika-liku yang mengantarnya pada keberhasilan. Untuk mencapai kesuksesan hingga usaha yang digelutinya bisa membiayai keluarga dan anak-anaknya bersekolah, bahkan hingga bisa memberangkatkan anak bungsunya ke Bulgaria, bukanlah hal yang mudah. Terlahir di desa yang harus menempuh jarak ke sekolah sejauh 5-6 kilometer dengan berjalan kaki, menjadi sebuah tantangan tersendiri bagi Pak Edy.

“Belum ada listrik dulu. Ngga kaya jaman sekarang istilahnya dah, bener. Saya dari rumah ke tempat sekolah, jauh sekitar 5 km, 6 km, (harus jalan) lewat sawah,” kisah Pak Edy.

Omzet Awal Rp 40 Ribu, Kini Bisa Mencapai Rp 1 Juta per Hari

Terbiasa menggembleng dirinya sendiri untuk mengatasi tantangan demi tantangan yang ada, ditambah rasa ingin tahunya yang besar, membekali Pak Edy untuk menyerap ilmu dan berbagai pengalaman sepanjang perjalanan hidupnya. Sempat beberapa bulan mencicipi bangku di Sekolah Pendidikan Guru, Pak Edy memutuskan untuk keluar dan mencari jalan alternatif lain bagi masa depannya.

Ia pun bertolak meninggalkan desanya, menuju ke kota Bandung. Di sana, Pak Edy mencoba berbagai pekerjaan serabutan, mulai dari berdagang gorengan, menjadi tukang kebun, kursus mesin tik, proyek membuat taman sebagai pemborong, hingga akhirnya mencoba berjualan siomay dan merasa cocok di bidang tersebut hingga saat ini.

Berawal dari menjajakan tahu baso Bandung alias siomay dengan berkeliling tahun 1994, Pak Edy cukup kewalahan meladeni pembeli dan menghabiskan tenaga untuk berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat lainnya. Akhirnya, Ia pun memutuskan untuk mangkal saja di satu titik. Pada waktu itu, bermodalkan Rp 15 ribu, Pak Edy bisa mengantongi omzet Rp 40 ribu per harinya. Ia menjual 3 buah siomay seharga Rp 500.

Seporsi siomay lezat buatan Pak Edy dengan bumbu kacang yang nikmat, dibanderol Rp 20 ribu.
Foto: (doc/MNEWS)

Kini, Pak Edy sudah berjualan secara permanen di Pujasera Blok S, Jakarta Selatan. Dalam membuat siomay dan batagornya, Pak Edy menggunakan bahan-bahan berkualitas premium. Bahan baku ikan segar diperolehnya dari langganan di pasar, sedangkan tepung sagu dan terigu, serta kacang untuk bahan dasar bumbu diperolehnya dari kawasan Bendungan Hilir. Dengan bahan-bahan tersebut, Ia mengolahnya menjadi siomay dan batagor lezat di rumah bersama dengan istrinya.

Sekali produksi, bermodalkan Rp 800 hingga Rp 900 ribu, Ia membuat siomay dan batagor hingga 50 porsi, kemudian dibekukan di freezer. Hal ini dilakukannya agar jika berhalangan produksi pada esok harinya, Ia masih memiliki persediaan. Pak Edy tidak produksi tiap hari, melainkan beberapa hari sekali.

Dengan Rp 20 ribu seporsi, Pak Edy bisa mengantongi omzet harian yang cukup bervariasi, mulai dari Rp 500 ribu hingga Rp 1 juta. Ia juga melayani pesan antar jika ada order dari pelanggannya dalam jumlah besar, atau orderan dari hotel.

Diakuinya, keuntungan secara finansial bukanlah target utamanya. Pak Edy berdagang siomay sesuai dengan kemampuan dan pesanan, tidak menetapkan target tertentu setiap harinya. Jika pada hari itu sedang ramai pesanan, Ia bersyukur. Jika sedang sepi, Ia pun tetap bersyukur. Baginya, hidup harus dilalui dengan penuh rasa syukur agar rezekinya terus bertambah.

Sukses Sekolahkan Anak Hingga S2 dan Belajar ke Bulgaria

Musibah demi musibah sempat dialami oleh Pak Edy. Dua dari lima anaknya dirawat di rumah sakit secara bersamaan. Lalu rumahnya yang terbakar dilalap api pada 2011. Belum cukup sampai disitu, tempat penggilingan padi yang dikelola oleh istrinya pun kerampokan. Menghadapi serangkaian ujian itu, Pak Edy justru semakin kuat dan bermental baja untuk terus melanjutkan usahanya.

“Musibah itu kalau kita berpikir, membuat kita dewasa, memikirkan kenapa dan mengapa. Apakah ini kita kurang bersyukur (mungkin)? Harta itu Allah yang punya, jangan dipikirin (harta yang hilang). Tentunya ada rintangan, kendala. Harus tetep semangat, jangan patah semangat,” tandasnya.

Pak Edy mempersiapkan penyajian siomay, di kios Pujasera Blok S, Jakarta Selatan. Foto: (doc/MNEWS)

Pak Edy pun terus memotivasi anak-anaknya untuk sekolah setinggi-tingginya, mengejar cita-cita selagi Ia masih mampu membiayai dengan hasil penjualan siomay. Terbukti, salah seorang anaknya berhasil menyelesaikan pendidikan Strata-2 di Bandung, sedangkan anak bungsunya saat ini sedang melanjutkan pendidikan bahasa Inggris di Bulgaria.

“Saya bersyukur, bukan bangga saya, kalau bangga nanti ada istilah kesombongan. Bersyukur, itu dari siomay. Mengalami ujian-ujian, rumah kebakaran dari hasil siomay, penggilingan padi terbakar dari hasil siomay, anak bisa memperoleh pendidikan dari hasil siomay, bisa membangun lagi yang telah terbakar dari siomay, karena itu rejeki yang tidak disangka-sangka dari siomay,” imbuh Pak Edy.

Bagi Pak Edy, Hidup Ini Seperti Teka-Teki

Dengan segala lika-liku kehidupan yang dirasakannya, Pak Edy menikmatinya dengan sungguh-sungguh. Baginya, “Kuliner itu tiada matinya,”. Ia ingin terus menggeluti usaha siomay dan batagornya, dan bercita-cita menjadi pedagang siomay sedunia. Pak Edy memiliki visi, kelak seluruh dunia akan bisa mengenal siomaynya dan merasakan kelezatannya.

Kunci dari keberhasilan hidup antara lain, merasa cukup. Bersyukur adalah kunci. Pak Edy menuturkan, jika bersyukur, dirinya merasa cukup atas pemberian Tuhan. Namun, jika Ia lupa bersyukur, nikmatnya pasti akan berkurang. Tiap manusia juga pasti akan mengalami naik turun dalam kehidupan, tergantung pengalaman dan ilmu yang dimiliki dalam menyikapinya. Apakah bisa menyikapi secara bijak, atau tidak.

Semangat, semangat, dan semangat. Itulah yang tak henti-hentinya dikatakan oleh Pak Edy. Semangat dari dalam hati yang paling dalam, yakin, akan mengantar pada keberhasilan. Ia juga menambahkan, jika mengalami kegagalan, bukan berarti gagal, tetapi tidak cocok.

“HIdup itu seperti teka-teki, harus benar ngisinya. Coba lagi kalau pernah gagal. Jangan pernah berhenti mencoba dan berusaha, sampai berhasil. Usaha ikhtiar itu wajib, dapatnya itu ngga wajib. Nah, niat yang kuat, yakinkan dalam hati. Jangan berhenti, jangan putus asa. Yang kita dapat, syukuri. Kalau udah bersyukur pasti ditambah. Jangan lupa doa dan sedekah,” kisahnya memberikan petuah.

Ekspresi gembira Pak Edy sembari menceritakan kisah hidupnya. Foto: (doc/MNEWS)

Nasehat ini berlaku pada siapa saja, khususnya bagi mereka yang ingin memulai usaha. Menjalankan usaha butuh ketekunan dan kesabaran, karena hasilnya tidak instan. Tak lupa Pak Edy juga menyarankan, aktiflah mencari informasi dan ikut dalam komunitas, sebab akan ada banyak ilmu serta koneksi berharga yang mengantarkan pada rezeki serta kelancaran usaha.

Usai berbincang, Pak Edy pun mempersilahkan kami untuk mencoba hidangan siomay dan batagor yang telah tersaji. Menolak untuk dibayar, Ia memberikan seporsi siomay dan batagor secara cuma-cuma, tak ketinggalan sebotol teh manis dingin dan es teler. Nikmat disantap di sore hari, cerita dan kebaikan hati Pak Edy akan tetap tinggal, meski hidangan telah ludes dihabiskan.

Menutup pembicaraan, Pak Edy pun berpesan, jangan pernah lelah berbuat kebaikan. Karena kebaikan yang ditanam, cepat atau lambat akan dituai. Dan bukan tidak mungkin, kebaikan menjadi sumber pelancar usaha dan rezeki dari bisnis yang sedang digeluti.

Tentang Penulis
Dewi Fadhilah Soemanagara
Deskripsi penulis tidak tersedia


TAMBAHKAN KOMENTAR

Silahkan Masuk untuk berkomentar.

KOMENTAR

Memuat... Belum Ada Komentar