Berkat Fintech TOKOMODAL, Geliat Ekonomi Warung Kecil Kian Meningkat

Dewi Fadhilah Soemanagara | 06 Maret 2019, 11:36 WIB

Jakarta, MNEWS.co.id – PT Toko Modal Mitra Usaha (TOKOMODAL), perusahaan Peer-to-Peer Lending (P2P Lending), mengumumkan inovasinya dalam mengembangkan layanan teknologi agar memudahkan para penggunanya di seluruh Indonesia untuk masyarakat yang tertarik menjadi investor dan para pelaku Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) yang berkeinginan memperoleh pembiayaan modal usaha. TOKOMODAL menjalin kerjasama dengan PT Sumber Alfaria Trijaya (SAT) Tbk pengelola jaringan ritel Alfamart dan Alfamikro untuk membantu usaha mikro masyarakat melalui bantuan permodalan, terutama pemilik warung kecil.

UMKM di Indonesia memberikan kontribusi penting bagi pertumbuhan ekonomi dan penciptaan lapangan kerja. Tercatat bahwa perusahaan di Indonesia 98% di antaranya merupakan usaha mikro dan kecil namun mampu menyumbang 57% Pendapatan Domestik Bruto (PDB) dan menyerap 60% tenaga kerja.

Namun demikian, usaha mikro dan kecil sering menghadapi kendala diantaranya kurangnya informasi maupun akses untuk memperoleh kredit/pembiayaan. Akibatnya, membatasi pertumbuhan dan peluang investasi mereka.

Dengan mengusung tagline “Sahabat Usaha Mikro untuk Rakyat”, Chris Antonius, Co-founder PT Toko Modal Mitra Usaha, mengatakan bahwa inisiatif dari pengembangan teknologi ini merupakan bagian dari visi dan misi perusahaan untuk mewujudkan inklusi keuangan di Indonesia dan memberdayakan UMKM.

Kemudahan akses yang diberikan oleh TOKOMODAL melalui aplikasi di Android akan menjadi salah satu strategi perusahaan dalam merealisasikan pinjaman modal yang cepat dan menguntungkan. Fintech ini memiliki motto "TOKOMODAL menawarkan pinjaman yang aman, efisien, mudah, dan cepat”.

MNEWS berkesempatan mewawancarai Co-Founder Fintech TOKOMODAL, Chris Antonius dan Direktur Head of Product, Herald Putra, beberapa waktu lalu. Berikut petikannya:

Bagaimana cerita di balik digagasnya Fintech TOKOMODAL?

Asal muasalnya dengan adanya alfamart di banyak daerah-daerah itu, warung-warung akhirnya bisnis mereka kepukul, karena di mana-mana ada Alfamart. Nah ini salah satu inisiatifnya Alfamart untuk kembalikan ke ekonomi lokal, ke UMKM. Jadi mereka bikin satu unit bisnis Alfamikro, warung-warung bisa menjadi member.

Warung-warung ini kalau mau beli barang bisa di Alfamikro, ambil barang yang memang ada di alfamart. Tapi karena mereka sudah daftar jadi member Alfamikro, namanya (OBA), harga barangnya jauh lebih murah dibanding konsumen biasa. Murahnya bisa 12-20 persen tergantung produknya. Ini kan jadi membangkitkan bisnis-bisnis setempat.

Tapi selama ini, yang sudah jalan bertahun-tahun dengan Alfamikro, OBA-OBA ini harus cash on delivery (COD). Sementara kalau UMKM kan kadang ada masalah di pendanaannya, jadi mereka ngga punya modal. Mereka harus kumpulin modal dulu baru beli, setelah beli baru bisa jualan lagi. Nah dengan adanya TOKOMODAL mereka bisa pilih barang dulu, setelah beli barang langsung dikirim oleh alfa. Pembayarannya bisa tunggu 7 hari sampai 14 hari. Jadi kita ubah cara bisnisnya, mereka bisa ambil barang, jual dulu baru kembalikan modal. Setelah mengembalikan, mereka bisa mengajukan pinjaman lagi. Plafon yang kita berikan kepada mereka, itu bisa 3-4 kali lipat dari transaksi biasanya.

Contoh, mereka punya modal Rp 1 juta rupiah. Rp 1 juta rupiah, kita ngomong barang consumer goods yang biasa, minyak goreng aja, paling cuma bisa beli berapa tipe aja. Karena stok terbatas, bisa kehilangan pelanggan yang mau beli, kan bisa kehilangan omzet. Dengan kita tambahkan modal, mereka bisa beli barang dengan varian lebih banyak, merek lebih banyak. Visi misi kita seperti itu.

Berapa range pendanaannya?

Range-nya minimal 300 ribu sampe 4,5 juta. Itu per pinjaman. Plafon untuk setiap toko yang kita berikan 500 ribu sampai 10 juta. Barang yang mereka jual kan fast moving, seperti rokok, minyak goreng, mie instan, kopi. Jadi mereka pinjam hari ini, bisa jadi sore pun udah banyak barang yang udah laku. Kalau mereka mau belanja lagi, bayar pinjamannya dulu nanti plafonnya ditambah.

Apa motivasinya?

Saya sendiri di dunia startup udah lama, bahkan masuk di dunia online industry sebelum ada online industry. Kalau saya lihat jaman sekarang banyak yang bikin-bikin startup, mereka membuat satu solusi tapi ngga tahu masalahnya apa. Jadi sudah buat solusi, sekarang lagi cari masalah. Nah kalau bisnis ini, satu, memang dari sisi Alfamart itu punya inisiatif untuk membangun UMKM.

Tapi mereka juga terkendala, selama ini jalannya COD, karena mereka kan perusahaan retail distribution sama logistic bukan financial, jadi OBA nya juga suka nanya, “mas bisa ngga bayarnya tempo? ngga bisa, disini cuma bisa COD”. Ini kan ada masalah real, bukan kita ada-adain. Kebeneran kita punya misi membuat peer to peer lending, tujuannya untuk menservice memfasilitasi masyarakat yang secara sosial ekonomi tidak bisa dilayani oleh bank. Kita bukan berebutan dengan bank, tapi bank juga tidak bisa menjangkau. Kita ingin bantu. Tapi kalau kita secara terbuka siapa saja boleh pinjam, kan risikonya gede. Jadi tujuan kita ingin mendapat ekosistem yang bisa digaransi.

Karena ini adalah warung-warung real. P2P ini adalah inovasi baru yang kalau dioperate dan dieksekusi secara benar, ini sangat-sangat bantu. Masyarakat golongan kecil bisa mendapat dana dengan mudah dan efisien. Tapi kalau disalahgunakan, akhirnya banyak fraud. Kalau udah banyak fraud, perusahaan untuk mengcover fraudnya butuh naikin bunga. Bunga makin gede, fraud makin gede, kan kaya telor sama ayam. Efek domino. Untuk kita mencegah, menghindari ini semua, kita harus cari partner yang punya ekosistem sendiri. Ngobrol-ngobrol, beneran Alfa dan OBA lagi butuh, kita juga lagi cari, nah ini visi misinya klop.

Bagaimana TOKOMODAL memastikan bahwa dana yang dipinjam akan dikembalikan?

Seleksi peminjam, warung harus sudah jadi member Alfamikro. Setelah kita launching, ada aja warung atau kelontong yang hubungi kita, “boleh ngga kita minta modal untuk usaha bisnis?”. Kita ga bisa. Sementara arahnya belum ke sana. Kalau ingin kerja sama dengan TOKOMODAL, harus daftarkan diri dulu ke Alfamikro. Ini adalah challenge yang dihadapi P2P. Warung-warung yang sudah jalan sama kita, sudah ada 8000 warung di 20 provinsi, lebih dari 50 kota.

Apakah warung-warung ini bisa kita kenal secara personal? Susah. Tapi karena kita kerja sama dengan Alfamikro yang ada di seluruh Indonesia, mereka yang bantu, dari sisi cari order, mengedukasi tentang TOKOMODAL termasuk collection. Risikonya kalau sampai warung ini gagal kembalikan modalnya, dia akan distop membershipnya oleh Alfamikro. Jadi tidak akan bisa dapat barang lagi. Sementara yang mereka pikirkan bagaimana beli barang dulu, beli barang baru bisa dijual.

Bagaimana dengan suku bunganya?

Kita hitungnya per periode. Per 14 hari kita kenakan biaya admin 1 persen. Jadi kalau kita hitung per bulan 2%, per tahun 24%, masih lebih sedikit daripada kartu kredit. Uniknya kita dengan P2P lain, kita ngga main tunai. Jadi warung, dia mau belanja, mereka buat transaksi dulu bareng alfa, kita langsung bayar ke alfa. Ga main tunai. Tunai tuh paling gampang disalahgunakan.

Seberapa penting ISO 27001:2013 bagi Fintech TOKOMODAL?

Kalau semua P2P ujung-ujungnya satu sisi kita punya database pemodal, satu sisi punya database peminjam. Ini semua database yang angat berharga, kalau sampai disalahgunakan, terjadi kebocoran kan bahaya. Jadi OJK juga menentukan semua perusahaan yang terdaftar di bawah OJK P2P harus memiliki ISO itu. Kita pelajari, ternyata ISO 27001 itu yang mereka minta lebih ke jaga keamanan, kenyamanan, bukan hanya database fisik tapi juga lingkungan kerja dan lain-lain. Ini semua syarat-syarat logical, perusahaan IT atau digital harus seperti itu jaga keamanannya. Jadi buat kita ngga ada masalah.

Profil pendana lebih banyak individu atau institusi?

Kita tidak menutup kemungkinan, boleh siapa aja. Buat kita sementara lebih banyak individu. Karena kita juga di bawah salah satu grup Tbk, Capital Financial, karyawan udah banyak. Jadi kita kerja sama dengan karyawan-karyawan kita. Insentiflah, masukin aja ke sini. Jadi dari mulut ke mulut menyebar. Jumlah pendanaan kita kan kurang lebih Rp 60-70 Miliar per bulan. Saat ini masih cukup imbang.

Berapa jumlah pemodal?

Kurang lebih ada 700-an pemodal.

Return untuk pemodal seperti apa?

Kalau 2 minggu kita kan dapat 1 persen dari peminjam, dari 1 persen itu 0,7 persen akan dikasih ke pemodal. 1,4 persen per bulan, kurang lebih 16 persen per tahun. Asalkan rajin. Sebelum tempo 14 hari siapatahu warungnya bisa balikin, jadi diputarnya makin banyak hasilnya untuk pemodal.

Selama masa promosi bunganya 0 persen?

Kita ingin reach out ke lebih banyak warung, saat ini bunga yang kita bebankan itu 0 persen asalkan dikembalikan sebelum 7 hari. Hanya untuk 7 hari. Kalau sudah lewat kena penalty, penalty kita 0,1 persen per hari. Satu sisi kita promosi 0 persen, tapi komitmen kita kepada pemodal memberikan 0,7 persen ke pemodal tetap kita jalankan. Kita terdaftar sejak februari, tapi dari feb-sept masih ada perbaikan sistem. Kita bener-bener launching Oktober. Jadi bener-bener 3 bulan.

Tahun ini proyeksinya bagaimana?

Dari 40 ribu member Alfamikro, mereka akan nambah member lagi. Yang udah jalan 3 bulan bisnisnya lancar, akan diberikan plafon oleh kita. Targetnya kita tahun ini mungkin 25.000-30.000 warung. Challengenya itu kan mengedukasi, dari social exposure mereka ngerasa belum segitu canggihnya. Jangan sampai mereka buat keputusan yang salah karena kurangnya informasi yang diberikan. Warung pasti butuh modal, tujuan kita adalah menyampaikan visi misi ke mereka. Sehingga, kalau butuh dana, ada lho TOKOMODAL yang cukup fair buat mereka. Jangan sampai mereka saking butuh banget tapi ngga tahu di luar ada option apa, pinjamlah lewat rentenir, kan kasihan.

Hambatannya apa saja?

Sebenarnya bukan harus punya smartphone, pasti rata-rata udah punya. Hanya saja itu untuk anaknya lah, cucunya lah, akhirnya cuma digunakan untuk social media. Nah ini kita bantu mencerdaskan mereka, sebenarnya handphone bisa sebagai instrumen untuk membantu produktivitas. Kan ada member relationship officer, bisa bantu. Kita sudah punya komunitas. Kita ngga perlu mengakuisisi komunitas. Kita akan fokus untuk mengedukasi komunitas. Jumlah marketing officer yang kerja buat Alfamikro ada lebih dari 1500, masing-masing pegang 30-40 warung, tugas kita mengedukasi MRO ini, supaya mereka bisa pass on lagi ke warung.

Apa saja tugas MRO?

Dengan MRO melakukan edukasi ke mereka, sebab dari standar mereka sendiri selain mereka do sales, mereka ada bedah warung. Udah dibantu ditata, ada edukasi gimana nyusun stok, ini mau expired, karena satu MRO menangani sekian warung, sifatnya lebih personal. Ada yang cerita bantuin buka warungnya, edukasi itu terus ada dari sisi MRO. Ngga cuma aplikasi aja, tapi sampe yang ada di warung itu juga banyak yang dibantu.

Dari 200 kota persebarannya seperti apa?

OBA yang sudah ditransaksi sementara paling besar di Serang Tangerang, Karawang, Malang. Ini 3 kota paling banyak ya. Tapi paling banyak ini kan banyak faktor ya, bisa karena warungnya lebih banyak, atau karena lebih cerdas, MRO nya pun lebih rajin. Banyak faktor lain. Tapi kita tuh tidak pernah milih. Kita kerja sama dengan alfa, memang masing-masing kota punya budaya yang berbeda. Ada kota yang lebih mudah convert dari COD menjadi pinjam dulu bayar nanti, ada kota yang culturenya agak susah untuk di-convert seperti itu. Dengan jaringan Alfamikro, MRO juga ada tugas untuk edukasi. Misal, barang ini laku lho, boleh distok lebih banyak. MRO bantu agar barang yang dibeli warung ini adalah barang yang cepat laku, jangan stok barang ngga laku-laku.

Adakah dampak dari kebijakan pajak pinjaman online?

Kalau buat kita sebenarnya engga. Ini ramai di berita, kita memang orang-orang yang ada di industri keuangan, kita pasti tahu. Tapi kalau tanya orang luar, orang awam, pernah dengar ngga sih kasus-kasus P2P yang belum tentu mereka tahu. Karena mereka di luar industri. Tapi balik lagi, pinjaman online yang mengorbankan peminjamnya itu rata-rata yang tidak terdaftar di OJK. Itu tugas kita untuk bekerja sama dengan AFI dan OJK, kalau mau pinjam pastikan dulu punya kemampuan untuk bayar. Kemudian pastikan mau meminjam ini untuk keperluan apa? Jangan selalu untuk sesuatu yang konsumtif. Ketiga, kalau memang udah niat mau bayar, tujuannya untuk produktif, ini adalah daftar perusahaan yang sudah terdaftar di OJK.

 

Tentang Penulis
Dewi Fadhilah Soemanagara
Deskripsi penulis tidak tersedia


TAMBAHKAN KOMENTAR

Silahkan Masuk untuk berkomentar.

KOMENTAR

Memuat... Belum Ada Komentar