Modal Awal Rp 50 Ribu, Bisa Ekspor Minuman Herbal Hingga Korea

Dewi Fadhilah Soemanagara | 22 Oktober 2018, 11:13 WIB

Jakarta, MNEWS.co.id – Pelaku Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM) masih memerlukan pendampingan dan pelatihan untuk memajukan usahanya, terlebih bagi pemula yang minim pengetahuan terkait strategi pemasaran, pengemasan produk, hingga prosedur untuk meningkatkan kualitas dan kapasitas produksi. Namun, belum banyak pihak di Indonesia yang melaksanakan program pelatihan bagi pelaku UMKM.

PT HM Sampoerna Tbk (Sampoerna) sebagai pihak swasta turut bersinergi dengan para pelaku UMKM agar bisa berdaya saing, mandiri, dan berkualitas untuk mendorong perekonomian nasional maupun daerah. Salah satu caranya, melalui program Pusat Pelatihan Kewirausahaan Sampoerna (PPK Sampoerna), yang telah memberikan pelatihan kewirausahaan kepada sekitar 40.000 orang sejak 2007.

Ibu Karyani, pelaku UMKM binaan PPK Sampoerna yang merintis usaha minuman herbal dengan merk Kesiman Jaya, mengaku menerima manfaat yang tidak hanya meningkatkan usaha kecilnya namun juga membuka peluang kesempatan. Wanita paruh baya asal Pasuruan, Jawa Timur ini memanfaatkan hasil bumi berupa jahe, temulawak, kunyit, daun sirsak, hingga lidah buaya, menjadi minuman herbal instan siap seduh.

“Saya mulai usaha 18 tahun lalu dengan bermodalkan Rp 50 ribu dan keinginan kuat untuk mengolah berbagai hasil bumi yang sangat bermanfaat. Usaha ini akhirnya semakin berkembang ketika saya bermitra dengan PPK Sampoerna. Saya mendapatkan pelatihan menyeluruh untuk lebih memahami pasar, pentingnya pengemasan produk, hingga penggunaan alat untuk proses produksi yang lebih efisien,” kisah Ibu Karyani dalam diskusi media Sampoerna untuk Indonesia, di XXI Djakarta Theatre, Kamis, (18/10/18).

Bermodalkan Rp 50 ribu saja, Ibu Karyani kini tengah menghasilkan omzet hingga puluhan juta rupiah per bulannya. Tentu saja, melalui kerja keras dan proses yang tidak mudah. Sempat tergabung dalam Kelompok Tani Kesiman Jaya di Desa Kesiman, Sukoreno, Prigen, Pasuruan Jawa Timur, wanita yang mulai mendapat pelatihan dari PPK Sampoerna sejak 2009 ini perlahan tapi pasti, mulai mengembangkan usahanya.

Sampoerna juga memiliki program Sampoerna Retail Community (SRC) yang telah berhasil mengembangkan 57 peritel di tahun 2008, hingga menjadi lebih dari 60.000 peritel di tahun 2018 dan tersebar di 408 kabupaten/kota di 34 provinsi di Indonesia. Program ini diperuntukkan bagi pemilik toko/warung yang ingin mengembangkan usahanya.

Ketut Suarjana, salah seorang mitra SRC asal Bali pun menuturkan pengalamannya selama bergabung dengan SRC.

“Berkat SRC, usaha saya menjadi berkembang dan mandiri. Kini saya sudah bisa menggerakkan komunitas sekitar untuk memajukan wirausaha mereka dan maju bersama-sama. Saya berharap kerja sama ini akan terus terjalin dengan baik, dan ke depannya akan lebih banyak peluang yang bisa diraih bersama SRC,” pungkas Ketut.

Melalui program SRC dan PPK, Sampoerna turut berkontribusi dalam menyuburkan ekosistem UKM yang secara nyata mampu memperkuat ekonomi kerakyatan Indonesia. Keduanya mampu menggerakkan roda perekonomian lokal serta memberdayakan masyarakat sekitar.

 

Tentang Penulis
Dewi Fadhilah Soemanagara
Deskripsi penulis tidak tersedia


TAMBAHKAN KOMENTAR

Silahkan Masuk untuk berkomentar.

KOMENTAR

Memuat... Belum Ada Komentar