Bangun Persepsi Brand, Bukan Sekadar Identitas Produk

Dewi Fadhilah Soemanagara | 26 Desember 2018, 16:52 WIB

Jakarta, MNEWS.co.id – Dalam memasarkan produk, dibutuhkan suatu brand yang dapat merepresentasikan ciri khas yang hanya dimiliki produk tersebut. Brand tidak hanya sekadar merek yang menandai suatu produk di pasaran. Lebih dari itu, brand adalah identitas, karakter, ‘nyawa’ dari produk barang/jasa yang dijual.

Rommy Prabowo Kiuk, Creative Branding Partner bercerita, asal mula kata ‘brand’ berasal dari bahasa Skandinavia pada tahun 1400-an, yang artinya membakar. Terminologi ini digunakan untuk membedakan antara hewan ternak yang satu dengan hewan ternak lainnya, berupa cap yang ditempel di tubuh hewan tersebut. Rommy pun menuturkan, brand memiliki berbagai definisi.

Rommy Prabowo Kiuk, Creative Branding Partner, memaparkan "Branding Strategy" dalam sesi 
One Day Workshop, Jakarta, (26/12/2018). Foto: (doc/MNEWS)

“Ada yang bilang brand itu identitas. Seberapa penting identitas tersebut? Identitas itu sebetulnya di mana kita merasa nyaman dengan apa yang kita lakukan dan apa yang kita kemas dalam suatu produk,” jelas Rommy dalam sesi One Day Workshop “Kita Bisa Karena Kita Bersama”, di Just.Co, AIA Central Lantai 31, Jakarta, Rabu (26/12/2018).

Rommy menjelaskan, logo atau gambar dalam sebuah brand hanyalah sebuah alat untuk mengkomunikasikan esensi dari brand itu sendiri. Tentukan esensi produk yang akan dijual, perlihatkan kepada masyarakat kalau identitas produk kita berbeda dengan yang lainnya. Lalu, bagaimana caranya menjadi sesuatu yang berbeda di antara yang lain?

Brand adalah bagaimana mengembangkan persepsi yang positif, unik dan otentik. Lebih lanjut, kata Rommy, brand juga bisa menciptakan pelanggan yang loyal. Caranya, harus dengan strategi yang tepat sasaran. Brand harus bisa membangun diferensiasi, loyalti, dan persepsi.

Branding, jelas Rommy, adalah proses pola pikir yang pada akhirnya akan membentuk persepsi orang lain terhadap suatu brand, dengan melibatkan banyak hal seperti emosional, pikiran, kecerdasan, analisis, intuisi, wawasan, serta kepekaan dan panca indera kita untuk merespon banyak hal yang dapat dilihat dari sudut pandang desain, budaya, sejarah, pemasaran, sosiologi, dan sebagainya.

Ia mencontohkan, brand analogy dari marketing, public relation, advertising, dan design. Masing-masing kategori memiliki definisinya sendiri. Branding, adalah gabungan dari keempat kategori tersebut, di mana kita tidak harus mempromosikan diri lagi, tetapi orang sudah tahu identitas produk yang dimiliki.

Analogi Branding yang dipaparkan Rommy Prabowo Kiuk, dalam sesi One Day Workshop
“Kita Bisa Karena Kita Bersama”, di Just.Co, AIA Central Lantai 31, Jakarta, Rabu (26/12/2018). 
Foto:(doc/MNEWS)

Lebih lanjut, brand adalah gabungan antara janji dari pembuat produk dan ekspektasi konsumen. Arsitektur brand harus dikelola dengan baik. Biasanya, dari satu mother brand, bisa diturunkan menjadi 3 jenis brand, yakni monolithic, endorsed, dan individual. Branding juga bisa dibagi lagi ke dalam kategori lainnya, seperti personal branding, product branding, corporate branding, cultural branding, dan geographic branding.

Strategi branding harus disesuaikan dengan brand seperti apa yang hendak dihidupkan. Ada 8 unsur dalam strategi branding, yaitu idea, value, identity, visual, communicate, customer relation, media, dan loyalty.

“Branding harus ada strategi, apa sih idenya? Kemudian keluarkan valuenya. Tentukan identitas yang akan dijalani, bagaimana visualnya, cara mengkomunikasikannya kepada publik, dan yang tidak kalah penting, jalin hubungan yang baik dengan customer. Gunakan media sesuai dengan target pasarnya, nanti loyalty akan mengikuti,” papar Rommy.

Sementara itu, lanjut Rommy, butuh waktu puluhan tahun untuk benar-benar mematangkan brand yang menempel di kepala masyarakat tanpa menuliskan nama brandnya. Ia mencontohkan brand Coca-Cola yang sudah identik siluet botolnya dengan warna merah yang telah dikenali masyarakat, meskipun tanpa menuliskan mereknya. Demikian juga dengan simbol checklist dan tagline “Just Do It” yang identik dengan brand Nike. Masih banyak contoh branding lainnya yang perlu kerja keras dan jatuh bangun sebelum menjadi brand yang established dan melekat dalam ingatan publik.

Ia juga menyarankan kepada peserta yang merupakan alumni Program Penumbuhan Minat Kewirausahaan Pemuda (PMKP) Kemenpora Indonesia 2018 untuk selalu riset.

“Penting bagi kalian untuk riset supaya pada akhirnya tahu, brand kalian mau dibawa ke mana. Bangun kekuatan brand dan juga kualitas produk. Karena brand dan produk harus jalan bareng, layaknya koin dengan 2 sisi,” tandasnya.

Dalam sesi workshop, selain memperoleh pembekalan mengenai persepsi branding, nantinya akan ada pelatihan basic product photography oleh fotografer ambassador Sampoerna, Ridho Alireza, dan peluncuran Komunitas Sahabat PMKP 2018 yang berafiliasi dengan Komunitas Sahabat UMKM.

Tentang Penulis
Dewi Fadhilah Soemanagara
Deskripsi penulis tidak tersedia


TAMBAHKAN KOMENTAR

Silahkan Masuk untuk berkomentar.

KOMENTAR

Memuat... Belum Ada Komentar