Advertising 101: Curi Perhatian dengan Keunikan

Dewi Fadhilah Soemanagara | 24 September 2019, 09:52 WIB

Jakarta, MNEWS.co.id — Ada banyak kiat untuk menarik perhatian khalayak lewat advertensi. Media, menjadi salah satu perantara konten advertensi yang lazim digunakan.

Selain media digital, media konvensional pun masih dianggap relevan sebagai penyampai pesan. Namun, untuk menciptakan suatu konten yang berkesan dan menarik perhatian memang bukan hal yang mudah.

Kemudahan akses memperoleh informasi dan data dari berbagai macam sumber kini bisa dirasakan oleh masyarakat. Hal ini menyebabkan persaingan dalam mencuri perhatian khalayak kian meningkat.

Monika Rudijono, CMO Lazada Indonesia mengatakan, sekarang segala hal bisa jadi media. Peluang untuk menciptakan engagement menjadi lebih banyak.

“Konsumen sudah biasa untuk mendapatkan informasi, advertising, dari berbagai macam sumber. Jadi nggak hanya terpaku pada media-media konvensional,” ujar Monika dalam acara The Future of Advertising & Key Trends Facing 2020 and Beyond, di Plug and Play Indonesia, Jakarta, Rabu (24/7/2019) malam.

Ia melanjutkan, masing-masing media memiliki konteks yang berbeda. Yang terpenting, kita mengerti media seperti apa yang digunakan. Misalnya, bagaimana membedakan konten yang ingin dipublikasikan di televisi, Youtube, dan lain-lain.

“Kita akan responsif dengan konten-konten yang relevan buat kita, misalnya yang bikin ketawa, atau emosional. Atau misalnya sesuatu yang amazing. Tapi kadang itu saja tidak cukup. Sebenernya target audience-nya itu siapa sih, apa yang mereka inginkan?” imbuhnya.

Untuk konten iklan di media Youtube misalnya, klimaksnya harus bisa menarik perhatian penonton sejak 30 detik pertama. Jika tidak, cenderung akan langsung dilewatkan begitu saja. Sementara untuk media televisi, bisa menggunakan intro yang memancing rasa penasaran.

Konten juga harus mengandung call to action secara persuasif. Sehingga, perlu konten yang relevan dengan konteks dan media yang digunakan.

Pentingnya Konten dan Konteks

Andi Surja Boediman, Managing Partner Ideosource Venture Capital, menambahkan tentang pentingnya konten dan konteks. Menurutnya, konten menjadi penting karena bisa menjelaskan maksud dan pesan yang ingin disampaikan dalam waktu singkat.

Sekarang, lanjut Andi, biaya distribusi itu gratis. "Cost of creation itu free. Tapi konten yang bermakna dan menarik perhatian menjadi priceless," ujarnya.

“Kalau di brand ada 2 lingkaran, Product Consumption Behavior dan Consumer Behavior. Pintar-pintar cari celah dan eksperimen. Kalau ingin membuat konten yang mencuri perhatian, perlu menghubungkan dengan perilaku konsumen,” jelas Andi.

Andi mencontohkan salah satu iklan es krim yang ditargetkan untuk remaja, menggunakan strategi momen-momen berkenalan dan jatuh cinta dalam advertisingnya. Karena setelah diteliti, perilaku remaja yang paling penting dalam hidupnya adalah jatuh cinta, dan brand es krim tersebut hadir sebagai “hadiah” yang mewarnai momen emosional tersebut.

Andi menekankan, kita harus bisa menggabungkan antara konten dengan habit manusia yang dapat menjadi potensi marketing.

Belajar dari Billboard Terbalik

Sementara itu, Anne Ridwan, Partner & CEO at Inofit Bio juga menjelaskan pentingnya integrasi antara media, konten, dan konteks serta mengubahnya menjadi call to action. Pasalnya, berdasarkan data media yang ada, 70% masyarakat masih rutin menonton televisi, jadi media beriklan tidak tepat jika hanya mengandalkan media sosial.

Billboard Lazada yang dipasang secara terbalik di salah satu jalan sempat mencuri perhatian. Iklan unik yang berkesan ini bukan tanpa alasan. Di baliknya, ada tim yang bekerja keras membuat konten sedemikian rupa. Brand tersebut harus mengambil langkah “berani” dalam membuat advertising yang mencuri perhatian.

“Dalam konten pasti ada objek tertentu yang ingin dicapai. Brand yang bikin bold decision itu akan jadi brand yang maju. Semakin kita ngerti konten yang sesuai dengan konteks, semakin efektif materialnya,” kata Anne.

Ia melanjutkan, kuncinya adalah invent, bagaimana caranya sebuah brand dapat memiliki engagement dengan konsumen yang memiliki attention deficit disorder, atau yang mudah teralihkan perhatiannya, yaitu dengan membuat iklan seunik mungkin sehingga perhatian mereka tercuri.

“Kayak iklan Gojek, gimana caranya biar unik dan mencuri perhatian, in a split second we know exactly what they want to say. Budget kecil bukan berarti kreativitas kecil. Budget kecil malah memancing untuk mengulik bagaimana membuat konten yang kreatif,” imbuh Anne.

Kesimpulannya, gunakan material advertising yang dekat dengan masyarakat, namun tetap unik dan tidak “standar”.

Tentang Penulis
Dewi Fadhilah Soemanagara
Deskripsi penulis tidak tersedia


TAMBAHKAN KOMENTAR

Silahkan Masuk untuk berkomentar.

KOMENTAR

Memuat... Belum Ada Komentar