Bloom: Sebuah Representasi Kembalinya Auretté and The Polska Seeking Carnival

Regina Mone | 01 Januari 2019, 13:20 WIB

Jakarta, MNEWS.co.id - Setelah vakum dari industri musik Indonesia pada tahun 2014 silam, grup band beraliran folk pop asal Yogyakarta, Auretté and The Polska Seeking Carnival (AATPSC) kembali hadir dengan merilis album kedua bertajuk Bloom.

Bloom yang secara harfiah dapat diartikan “mekar”, sebagai representasi sebuah perubahan atau transformasi yang terjadi baik dari segi musikal maupun personel AATPSC. Secara personal, sejak terbentuk pada 2012 silam hingga sekarang, setiap personel band telah mengalami banyak perubahan dalam hidup mereka. Sementara dari segi musik, Bloom mengalami perubahan yang drastis dan sangat berbeda dengan album pertama AATPSC bertajuk Self Titled yang dirilis pada 2013 silam.

Perubahan musikalitas AATPSC dalam album Bloom dapat dilihat dari segi musik dan lirik. Jika dalam album pertama Self Titled AATPSC banyak menggunakan instrumen akustik dan lirik lagu berbahasa Inggris, pada album Bloom yang berisi 12 lagu ini AATPSC banyak menambahkan instrumen elektronik dan sampling elektronik, serta menggunakan lirik berbahasa Indonesia dalam beberapa lagu.

Selain mengisahkan proses transformasi personal AATPSC, 12 lagu dalam Bloom berkisah tentang kehidupan sekitar. Single pertama bertajuk “Rinai Hujan” berkisah tentang seseorang yang bersedih dan merasa sendu di kala berdiri di tengah hujan, ia mengharapkan seseorang menemuinya dan mengajaknya berteduh. Sementara dalam “Lullaby (Wondering Why)” AATPSC menjabarkan hubungan antara manusia dan Tuhan. “On The Shore” secara sureal menggambarkan sepasang kekasih yang tengah berjalan di pantai. AATPSC juga menyoroti persoalan sosial dalam lagu “Melerai Lara”, lagu ini menyoroti kaum transgender yang seringnya masih mendapat diskriminasi di tengah masyarakat. Lagu “Tamasya” menjabarkan para manusia yang suka bertamasya, namun terkadang baik sengaja atau tidak sengaja merusak alam sekitar. AATPSC juga menyoroti masalah kesehatan mental/jiwa dalam lagu “The Bell Jar.”

Di album ini AATPSC juga berkolaborasi dengan beberapa musisi lain. Misalnya dalam lagu “The Bell Jar”, Gardika Gigih bermain piano dan membuat reverse sampling, dan YK Brass Ensemble mengisi departemen brass section atau alat tiup besi.

Auretté and The Polska Seeking Carnival terbentuk pada tahun 2012. Sebelum merilis Bloom di tahun 2018, mereka telah merilis album pertama bertajuk Self Titled pada 2013 silam. Album Self Titled tersebut dirilis dalam berbagai format yaitu kaset pita, CD, rilis digital mp3, dan vinyl atau piringan hitamK. Bloom sudah dapat didengarkan di Spotify, iTunes, Apple Music, Youtube, Deezer, Google Play Music, Tidal, Napster, Amazon Music, dan layanan digital stores lainnya. Sementara untuk versi fisik dari album Bloom saat ini sedang dalam tahap produksi dan akan menyusul dirilis secepatnya.

Tentang Penulis
Regina Mone
Deskripsi penulis tidak tersedia


TAMBAHKAN KOMENTAR

Silahkan Masuk untuk berkomentar.

KOMENTAR

Memuat... Belum Ada Komentar