Kopi Indonesia, Rekam Jejak Perjalanan Kopi Nusantara

Dewi Fadhilah Soemanagara | 13 Desember 2018, 16:16 WIB

Jakarta, MNEWS.co.id – Membawa kopi Indonesia dengan cara yang berbeda, itulah misi Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf) dalam buku KOPI: Indonesian Coffee Craft & Culture, yang baru-baru ini diluncurkan. Dari sekian banyak buku tentang kopi, mulai dari pembahasan historis hingga persoalan teknis, belum ada yang mengangkat situasi kopi terkini di Indonesia yang enak dibaca. Padahal, budaya kopi Indonesia begitu kental dan beragam.

Kepala Bekraf, Triawan Munaf, dan narsum talkshow dalam peluncuran buku
KOPI: Indonesian Coffee Craft & Culture, Tugu Kunstkring, Jakarta, Rabu (12/12/2018).
Foto: (doc/MNEWS).

“Coba mana ada orang kurang kerjaan ngebatik kopi pakai ampas kopi, cuma di Indonesia. Dengan logo Kopi Indonesia, kita ingin memulai, membawa kata kopi equal Indonesia. Kopi Jawa, kopi Sumatera misalnya, harapannya ke depan dikenal sebagai kopi Indonesia,” tandas Deputi Bidang Pemasaran Bekraf, Joshua Puji Mulia Simanjuntak, dalam peluncuran buku KOPI: Indonesian Coffee Craft & Culture di Tugu Kunstkring, Jakarta, Rabu (12/12/2018).

Masih Perlu Nilai Tambah
Joshua menganggap, selama ini Indonesia masih terfokus pada penjualan biji kopi, padahal juga diperlukan kreativitas untuk mengolah nilai tambah (added value) di balik kopi itu sendiri. Bekraf dalam hal ini berusaha menjembatani berbagai pihak agar bisa menciptakan ekosistem yang lebih subur dan inventif untuk memajukan industri kreatif sektor kopi.

Ilustrasi biji kopi. Foto: Pexels.

Dalam kesempatan yang sama, Andi Haswidi, Penulis Buku KOPI, menuturkan hal-hal yang diangkat dalam buku yang digarapnya. Ia mengatakan, kopi Indonesia bisa semakin baik karena peran pelaku-pelakunya. Itu sebabnya, penting mengangkat kisah para pelaku yang telah lama berkecimpung di dunia kopi. Sebab, literatur tentang kopi masih sangat sedikit. Ia juga menambahkan, penggunaan bahasa Inggris populer dalam buku ini bertujuan agar bisa dinikmati masyarakat umum dengan mudah.

“After all this is a coffee book. Yang bikin mudah nulis buku ini, ceritanya passionate banget. Saya menikmati menulis buku ini. Menurut saya banyak banget yang bisa dipelajari di buku ini. Kopi Indonesia sedang menentukan wave nya sendiri,” pungkas Andi.

Kelola Indikasi Geografis Kopi Secara Bijak
Sementara itu, Daroe Handoyo, Wakil Ketua Specialty Coffee Association of Indonesia (SCAI), berharap kejujuran buku KOPI bisa menyuburkan budaya kopi di Indonesia. Selama ini, dunia kopi di Indonesia masih terfragmentasi, belum dilihat secara utuh. Tidak hanya mengekspos potensi dan keunggulan kopi, lanjutnya, buku ini juga berbicara secara jujur, menuturkan kekurangan-kekurangan yang ada. Indikasi geografis yang mencirikan berbagai jenis kopi Nusantara pun sebenarnya bisa dikembangkan lebih banyak lagi. Namun, dikhawatirkan bisa menimbulkan perpecahan.

“Blockchain atau indikasi geografis kopi, kita bisa punya ribuan. Tapi buat apa? Kalau tidak dimanage dengan baik bisa menimbulkan perpecahan dan ego sektoral. Lebih baik ada di satu payung, Kopi Indonesia, nanti tinggal diletakkan di atasnya “wamena”, “kintamani”, apa saja. Tapi merupakan bagian dari Indonesia. Berapa kali saya nganter tamu asing, ‘saya mau beli kopi Indonesia dong’. Ngga ada kopi Indonesia. Jadi lupakan sektoral, perbedaan, kita ini satu,” tandas Daroe bersemangat.

Sesi Coffee Cupping, Tugu Kunstkring, Rabu (12/12/2018). Foto: (doc/MNEWS).

Kelima narasumber yang berkisah dalam talkshow ini sepakat, budaya kopi Indonesia harus terus diangkat dan dikembangkan, tanpa memfokuskan pada aneka perbedaan sektoral perkopian yang ada. Seperti halnya ungkapan ‘Bhinneka Tunggal Ika’, kopi di Indonesia boleh beragam, tetapi tetap satu. Keragaman cita rasa tersebut mewakili karakter Indonesia secara utuh.

Linda Rustam, Business Director Afterhours Books yang menjadi project officer pembuatan buku KOPI ini juga optimis, masyarakat bisa lebih mengetahui budaya kopi yang selama ini belum terungkap. Dari mulai cara meminum kopi, hingga cara brewing paling tradisional dan paling modern, ada dalam buku ini. Ia juga mengakui, peran 18 orang pelaku kawakan kopi dalam membuka jalan merekam perjalanan kopi Indonesia sangat penting. Tanpa mereka, dirinya beserta tim tidak akan bisa merampungkan buku sesuai harapan.

Potensi Kopi Indonesia Sebagai Kopi Archipelago
Petani kopi daerah Jawa Barat, Eko Purnomowidi, turut memaparkan pemikirannya. Ia mempertanyakan, mengapa kopi Indonesia belum dikenal sebagai Indonesia? Menurutnya, kopi Indonesia justru banyak diperebutkan oleh negara konsumen kopi. Ia menyayangkan kopi berkualitas yang lebih banyak ekspornya dibanding penggunaannya secara lokal.

Kopi Indonesia, tambah Eko, adalah kopi archipelago yang secara konservasi mirip unsur kopi Malabar. Unsur Malabar ini digunakan untuk espresso, karena kopinya enak untuk diblend. Keunggulan dari kondisi geografis inilah yang menurutnya pentinguntuk dijaga.

“Kalau terumbu karang kita hilang, oksigennya hilang, ngga ada lagi ciri khas kopi kita. Kopi adalah perjalanan panjang,” ujar Eko.

Ilustrasi secangkir kopi. Foto: Pexels.

Mewakili petani, Eko juga berharap Bekraf bisa lebih banyak mempromosikan sisi hilir. Ada satu juta lima ratus ribu petani, bonus demografi inilah yang membuat café-café serta roaster-roaster di Indonesia tidak akan mati. Petani butuh market yang lebih sustain, imbuhnya, karena permasalahan yang dihadapi di perkebunan kopi sudah banyak. Sehingga, butuh bantuan untuk menangani permasalahan di hilir, seperti pemasaran.

Hingga 2025, kata Eko, tidak perlu khawatir terjadi penurunan komoditas kopi. Berdasarkan data ekspor yang diketahuinya, dari 2010 ke 2017 konsumsi kopi lokal mencapai 600.000 goni per tahun. Misalnya di desa Dolok Sanggul, produksinya mencapai 7.000 ton setahun, jika dikalikan Rp 70 ribu, sudah bisa dihitung berapa omzetnya.

“Kita pengin di hilirnya baik, aktif, bisa membantu kita memasarkan. Karena Indonesia itu organic by default in general. Minum kopilah lebih banyak. Dengan meminum kopi, telah membantu mengkonservasi alam,” imbuh Eko.

Nyatalah, persoalan kopi di Indonesia tidak hanya sekadar menyeduh secangkir bubuk kopi dan menyeruputnya hangat-hangat. Persoalan kopi menyangkut budaya, ekonomi, identitas bangsa hingga persatuan. Tidak hanya menikmati cita rasa kopi ala kadarnya, melalui buku ini diharapkan kesadaran masyarakat bisa lebih meningkat untuk melestarikan budaya kopi dan memperkuat kopi itu sendiri, baik sebagai suatu komoditas, maupun filosofi dan nilai sosial.

Tentang Penulis
Dewi Fadhilah Soemanagara
Deskripsi penulis tidak tersedia


TAMBAHKAN KOMENTAR

Silahkan Masuk untuk berkomentar.

KOMENTAR

Memuat... Belum Ada Komentar