Sertifikasi, Upaya Tingkatkan Daya Saing Pembatik

Regina Mone | 26 Oktober 2018, 15:27 WIB

Sukoharjo, MNEWS.co.id - Tingkatkan kualitas sumber daya manusia (SDM), Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf) melalui Deputi Hak Kekayaan Intelektual (HKI) dan Harmonisasi Regulasi telah menyertifikasi sebanyak 1.100 pembatik.

Direktur Harmonisasi Regulasi dan Standardisasi Bekraf, Sabartua Tampubolon, menyampaikan sertifikasi bukan satu-satunya indikator kompetensi. Namun hal ini diperlukan untuk meningkatkan daya saing dan menembus pasar internasional. Oleh karena itu, sertifikasi diperlukan untuk memperluas dan mengembangkan pasar.

"Bekraf terus mendukung pengembangan ekosistem komunitas pelaku ekonomi kreatif (ekraf) di Indonesia. Kami yakin ekraf yang makin maju akan bisa menjadi tulang punggung perekonomian nasional," ungkap Sabartua dalam pembukaan Fasilitasi Sertifikasi Profesi Batik di Sukoharjo, Jawa Tengah.

Kepala Subdirektorat Standardisasi dan Sertifikasi Bekraf, Budi Triwinanta, mengatakan sertifikasi telah dilakukan di 11 kota/provinsi di tahun ini. Setiap pelaksanaan sertifikasi diikuti oleh 100 pembatik. Diakuinya, Jawa merupakan pusat batik nasional. Meski begitu, pelaku kreatif sejumlah daerah di luar Jawa seperti Batam, Jambi, Medan, Padang, hingga Papua mampu menghasilkan batik dengan menawarkan motif yang berbeda.

"Setiap daerah harus memiliki ciri khas motif batik sehingga semakin mudah dikenali dan menjadi nilai tersendiri terhadap produk yang dihasilkan," ujar Budi.

Direktur LSP Batik, Subagyo Sujono Putro, mengungkapkan ada tiga kriteria penilaian sertifikasi pembatik, di antaranya keterampilan, pengetahuan, dan sikap. Menurutnya, seluruh peserta sertifikasi batik biasanya memiliki keterampilan yang tak diragukan lagi.

Meski begitu, tidak semua peserta sertifikasi akan mendapat predikat Kompeten. "Setiap pembatik yang telah membatik minimal tiga tahun pasti terampil. Namun kendala memperoleh sertifikat biasanya pada pengetahuan dan sikap," terangnya.

Bagyo menjelaskan, kebanyakan pembatik melakukan usaha ini secara turun menurun sehingga pengetahuan mengenai batik tidak dalam karena hanya meneruskan tradisi keluarga. Namun pembatik yang dinyatakan kompeten, hasil produk biasanya lebih berkualitas dan nilai jualnya bertambah.

Tentang Penulis
Regina Mone
Deskripsi penulis tidak tersedia


TAMBAHKAN KOMENTAR

Silahkan Masuk untuk berkomentar.

KOMENTAR

Memuat... Belum Ada Komentar