Sukses Bisnis Ayam Geprek, Billy Margono Bagikan Rahasianya

Dewi Fadhilah Soemanagara | 14 September 2018, 10:00 WIB

Jakarta, MNEWS.co.id – Merintis usaha kuliner memang gampang-gampang susah. Ada langkah-langkah yang perlu diperhatikan oleh pelaku usaha, khususnya pemula. Kita bisa belajar dari tren kuliner ayam geprek yang sedang hangat. Sukses merintis bisnis Ayam Geprek Bossque dari nol, pebisnis muda Billy Mulya Margono bagikan 10 tips di balik rahasia sukses usaha ayam gepreknya.

Menurut Billy, ketika memulai usaha, kita harus memulai dari bawah. Jangan takut dan jangan langsung mengharapkan omzet yang besar, karena perlu proses yang harus dijalani hingga mencapai sukses. Yang pertama harus diperhatikan, bagaimana supaya orang tertarik dengan produk yang kita tawarkan?

Kita harus lihat momentum, lanjut Billy. Tiap momentum punya potensi dan terkadang kita tidak perlu ide yang sangat revolusioner. Kita hanya memerlukan mata dan pikiran yang terbuka dalam melihat kesempatan dari fenomena-fenomena yang sudah terjadi.

“Contohnya gini, kenapa saya bikin ayam geprek? Sebenarnya, ayam geprek itu adalah transformasi dari ayam penyet. Belajar terus, lakukan inovasi, dan revolusi untuk mengembangkan potensi yang sudah ada. Kalau ada potensi yang bagus, langsung hajar! Action di sini adalah yang paling penting,” jelas Billy dalam acara Workshop Kuliner Ralali.com & Komunitas Sahabat UMKM “Ekspansi Bisnis Kuliner di Era Digital” di Wisma 46 Kota BNI, Sudirman, Jakarta, pada Kamis (13/9/18).

Inovasi juga sangat penting agar bisa bersaing dengan kompetitor lain. Aspek yang harus diperhatikan adalah packaging, kata Billy, karena itu bisa menentukan kesan pertama konsumen terhadap produk yang kita tawarkan.

Kemudian yang tidak kalah penting, riset dan riset. Selalu melihat dari segala persepsi untuk meminimalkan risiko. Market juga harus ditentukan. Billy mengatakan, target market akan mempengaruhi cara men-deliver produk yang kita miliki. Aspek berikutnya, lokasi.

“Lokasi itu penting. Dengan lokasi yang baik atau mencolok akan membuat orang mengingat merek kita. Saya sarankan pilih lokasi dekat dengan pemukiman dan institusi, misal institusi sekolah atau perkantoran supaya mudah dikenal dan disambangi,” imbuhnya.

Billy Mulya Margono dalam acara Workshop Kuliner Ralali.com & Komunitas Sahabat UMKM, “Ekspansi Bisnis Kuliner di Era Digital”
di Wisma 46 Kota BNI, Sudirman, Jakarta, pada Kamis (13/9/18). Foto: (doc/MNEWS)

Lalu, tentukan harga. Beda 100 rupiah saja bisa sangat berharga. Kita sebagai penjual, kata Billy, harus memposisikan diri juga sebagai konsumen. Tentukan harga yang tepat sesuai dengan target pasar. Dan terus ikuti tren agar tidak tergerus dengan pelaku usaha lain yang tidak kalah inovatif

Aspek berikutnya yang tidak kalah penting adalah sumber daya manusia. Aset terbesar sebuah bisnis adalah sumber daya manusia, para pelaku yang berhadapan langsung dengan konsumen. Billy juga membagikan pengalamannya.

“Interview dulu, kalau merasa tidak cocok jangan diterima. Saran saya untuk Bapak/Ibu yang mau cari karyawan, harus yang satu visi dengan Bapak/Ibu. SDM adalah hal paling penting untuk maju atau tidaknya bisnis. Kalau SDM ngga bagus, bisnis kita gini-gini aja. Kuncinya, kita harus tanamkan visi sejak awal ke mereka. Kita harus kasih mandat, reward. Kalau kita bisa mencetak orang dalam tim akan lebih cepat dibanding kita jalan sendirian,” tandas Billy.

Selanjutnya, memperluas jejaring media sosial dan ads di internet. Gunakan berbagai macam media untuk menarik konsumen, terutama untuk menarik pasar milenial. Billy menambahkan, kita harus memanfaatkan momen agar produk kita bisa diketahui orang lain, melalui iklan di Facebook atau Instagram misalnya. Teknologi media sosial bisa membantu agar usaha semakin berkembang.

“Terakhir, jangan ragu membuka cabang jika usaha kita sudah stabil. Karena orang berpikir usaha tersebut pasti sukses kalau sudah buka cabang,” pungkas Billy yang sudah membuka hingga 12 cabang dan membuat franchise dari ayam gepreknya tersebut.

Franchise, lanjutnya, adalah strategi duplikasi paling efektif. Namun tetap harus hati-hati, jangan sampai ada orang yang memberikan iming-iming uang dalam jumlah besar untuk mem-franchise-kan usaha kita. Karena rentan dicuri ide usahanya. Terkait hal ini, Billy juga memberikan tipsnya.

“Kita kasih standar yang kita punya. Dan semua bahan baku harus dari kita, terutama bumbu misalnya, sehingga franchisee hanya bisa membeli, tidak bisa meniru ramuan yang menjadi komposisinya. Kita harus bagusin fondasi usaha kita dulu. Kalau ada yang mau franchise, lihat-lihat dulu. Orang itu menjiplak gampang, cari ide yang susah. Kita harus kuatin brand-nya dulu,” tutupnya.

Tentang Penulis
Dewi Fadhilah Soemanagara
Deskripsi penulis tidak tersedia


TAMBAHKAN KOMENTAR

Silahkan Masuk untuk berkomentar.

KOMENTAR

Memuat... Belum Ada Komentar