Klasik Beans, Seteguk Rasa Klasik dalam Kopi Organik Ramah Lingkungan

Dewi Fadhilah Soemanagara | 22 April 2019, 11:38 WIB

Jakarta, MNEWS.co.id – Berawal dari sekelompok relawan bencana alam yang melakukan mitigasi bencana dan rehabilitasi kawasan dengan reforestasi, Klasik Beans dihasilkan. Kopi di dataran Sunda yang berbeda bentuk dan rasa dengan arabika yang ada di pasaran ini memiliki rasa klasik yang nikmat.

Tidak hanya rasanya yang istimewa, kopi dengan rasa klasik ini juga termasuk kopi organik yang ramah lingkungan. Bersama dengan para petani kopi, Eko Purnomowidi, Senior Advisor Klasik Beans Cooperative, membangun ekosistem berkelanjutan dengan bertani sambil merawat lingkungan. Tentunya hal ini tidak mudah, mengingat sulitnya menjaga kelestarian lingkungan di tengah aktivitas bercocok tanam.

Menurut U.S. Department of Agriculture, kopi organik adalah kopi yang dalam proses produksinya tidak menggunakan bahan/zat sintetis seperti pupuk buatan yang mengandung zat kimia, pestisida, dan herbisida. Kopi organik baru bisa dikatakan organik apabila 95% biji kopinya berasal dari pohon kopi yang ditanam dalam kondisi alami. Dalam proses pascapanen, kopi organik juga harus memperhatikan dan mengelola limbahnya dengan baik agar tidak mencemari lingkungan. 

Eko Purnomowidi dan Ibu Ai di kebun kopi Desa Bowongso, Wonosobo, Jawa Tengah. 
Foto: instagram.com/purnomowidieko

Eko mengakui masih menemukan berbagai tantangan dalam proses pengolahan kopi organik Klasik Beans ini. Salah satu tantangan terbesar adalah mengubah pola pikir masyarakat awam, yang menganggap bahwa pupuk atau bahan kimia adalah "obat" dalam proses pertanian. Padahal, bahan-bahan tersebut justru akan menimbulkan efek samping dan kerusakan lingkungan yang serius.

“Kesulitan utamanya adalah persepsi masyarakat umum, bahwa meracun tanah air dengan kimia menjadi wajar, dan yang tidak meracun tanah air dalam bertani menjadi aneh,” ujar Eko kepada MNEWS beberapa waktu lalu.

Eko memaparkan, dalam mengedukasi para petani, persepsi umum menyebutkan bahan kimiawi sebagai “obat”, obat hama. Padahal, lanjut Eko, itu racun. Karena mayoritas aktivitas pertanian masih melibatkan proses meracun, menjadi sulit bagi bangsa Indonesia untuk bertani sembari merawat lingkungan.

“Ini kendala terbesar. Dari persepsi ini, pasar terbesar (yaitu pasar lokal), mengabaikan faktor kesehatan dalam membeli bahan pertanian, karena persepsinya obat bukan racun, atau penggunaan pestisida dan semacamnya yang dianggap wajar,” tandasnya.

Pria yang pernah berkecimpung di Volkopi Indonesia ini menganggap kopi sebagai pilihan utama pelepas rindu dengan interaksi sosial. Alasannya sederhana, karena kopi menyatukan tiap insan.

“Di Indonesia, kopi menjalin kembali interaksi sosial masyarakat yang punah sejak masa reformasi 1998, dengan adanya kredit mobil/motor murah yang menyebabkan warga menjadi individualis atau sendiri2. Interaksi sosial yang dulu terjalin di bus dan angkot atau angdes, tidak ada lagi. Ketika warga rindu dengan interaksi sosial, maka kopi menjadi pilihan utama pelepas rindu,” jelasnya.

Selain sebagai pelepas rindu interaksi sosial, kopi bagi Eko juga berfungsi untuk detoksifikasi residu makanan dalam tubuh. Sebab, kopi memiliki sifat menyerap racun. Selain itu, kopi juga bisa menimbulkan sensasi bahagia tersendiri.

“Kalau kita menyeduh kopi dan melihat orang yang meminumnya tersenyum karena enak, bahagia rasanya. Konon kafein memang menstimulasi endorfin agar bahagia,” imbuh Eko.

Coffee Agroforests. Foto: instagram.com/klasik_beans

Masih banyak manfaat kopi yang lainnya. Dari segi sosial ekonomi, kopi menjadi sumber pemerataan penghasilan bagi masyarakat khususnya petani kopi. Di hulu, kopi diproduksi oleh banyak sekali petani kecil. Inilah yang menurut Eko meratakan rezeki ke banyak orang.

Dari segi rasa, kopi organik pun memiliki cita rasa dan aroma yang lebih nikmat dibandingkan kopi biasa. Hal ini disebabkan karena dalam proses produksinya sama sekali tidak menggunakan senyawa kimia berbahaya. Dilansir dari Coffee House Express, kopi organik lebih sehat karena tidak mengandung tambahan bahan artifisial, sehingga kandungan antioksidan, vitamin, dan mineralnya lebih tinggi dibandingkan kopi non organik. 

Jangan berhenti minum kopi, inilah yang hendak disuarakan oleh Eko bersama dengan Klasik Beans, para petani dan komunitas kopi. Dengan metode yang tepat, kita bisa memproduksi kopi berkualitas dengan rasa klasik yang tidak merusak lingkungan. Siapa sangka, dengan menanam dan mengonsumsi kopi, kita sudah turut berkontribusi menjaga kelestarian alam.

“Karena kopi adalah tanaman konservasi, maka dengan minum kopi kita sudah turut menjaga tanah air kita tercinta ini,” tutupnya.

Tentang Penulis
Dewi Fadhilah Soemanagara
Deskripsi penulis tidak tersedia


TAMBAHKAN KOMENTAR

Silahkan Masuk untuk berkomentar.

KOMENTAR

Memuat... Belum Ada Komentar