Perempuan dan Bisnis Penerbitan: Stereotip Hingga Refleksi Diri

Dewi Fadhilah Soemanagara | 12 September 2018, 22:00 WIB

Jakarta, MNEWS.co.id – Bisnis konten yang lekat dengan dunia literasi dan penerbitan, menjadi salah satu bidang pekerjaan yang menjanjikan. Tak terkecuali, bagi perempuan. Namun, masih banyaknya diskriminasi karena bidang tersebut didominasi oleh laki-laki, ternyata tidak lantas membuat perempuan menyerah begitu saja.

Dalam diskusi ringan seputar perempuan dengan tema "Women in Content Business—Ideas and Strategies”, Frankfurter Buchmesse dan Goethe-Institut menghadirkan empat perempuan untuk berbincang seputar perempuan di dunia bisnis konten. Ternyata, tidak hanya di Indonesia, banyak kendala yang dijumpai oleh kaum perempuan di belahan dunia lain, contohnya di Jerman.

Editor Senior Penerbitan Ullstein, Kristine Kress, mengungkapkan banyak perempuan yang berkecimpung di middle management dan sangat menguasai bidangnya masing-masing. Tetapi, bukan berarti semuanya baik-baik saja.

“Laki-laki masih dominan, dan saya akan terkejut jika ada perempuan yang dimintai pendapat atau dianggap memiliki kapabilitas secara profesional, karena biasanya hal itu jarang sekali terjadi. Walau perempuan tersebut memiliki kemampuan, tetapi tidak lantas mendapat respect dari lingkungan sekelilingnya, khususnya dari rekan kerja yang sebagian besar adalah laki-laki,” imbuh Kristine dalam diskusi yang digelar Indonesia International Book Fair (IIBF) 2018 di Plenary Hall Stage JCC Senayan, Jakarta, Rabu (12/9/18).

Senada dengan Kristine, Anja von Kampen, sutradara sekaligus penulis buku “Knietzsche und das Hosentaschen-Orakel” mengatakan, karena rentan diremehkan, maka perempuan harus menjadi “lebih kuat”. Dalam artian, bisa bernegosiasi dengan lingkungan sekitarnya untuk menghilangkan wacana bahwa perempuan selalu jadi ‘terbelakang’.

Namun demikian, kentalnya stereotipe maskulin dalam kisah di buku-buku cerita masih menyedihkan. Anja mengkritik tradisi dan literasi khususnya cerita di buku anak-anak yang kerap mengisahkan tokoh utama yang kuat dan berkuasa dalam dongeng atau fabel sebagai laki-laki, sedangkan perempuan hanya menjadi tokoh sampingan, pelengkap yang tidak signifikan.

Buku, lanjut Anja, menjadi inspirasi bagi pembacanya khususnya bagi anak-anak yang tengah menghadapi proses pembentukan karakter. Siapa diri kita nanti, imbuhnya, bisa ditemukan dari buku atau bahan bacaan.

“Ini wacana yang harus kita ubah, kita harus mendidik perempuan agar lebih percaya diri dan tidak mudah diremehkan. Tidak perlu melakukannya dengan cara laki-laki, but we do it the female way,” tandas Anja.

Diskusi "Women in Content Business—Ideas and Strategies” di Indonesia International Book Fair 2018,
Plenary Hall Stage, JCC Senayan, Jakarta, Rabu (12/9/18).  Foto: (doc/MNEWS)
Kiri-kanan: Anja von Kampen, Claudia Kaiser, Laura Prinsloo dan Kristine Kress.

Ketua Komite Buku Nasional Indonesia, Laura Prinsloo, membagikan pengalaman refleksi dirinya selama berkarir di dunia perbukuan dan penerbitan. Ia membuka sesi diskusi dengan gimmick cantik yang membuat pengunjung yang hadir terkekeh.

“Penerbitan harusnya lebih banyak perempuan, karena berasal dari kata publish-her,” ujar Laura sembari tertawa.

Laura melihat bahwa orang-orang yang bekerja di industri penerbitan/perbukuan biasanya adalah mereka yang memiliki passion dengan dunia tulis-menulis, editing, dan semacamnya. Ia mengakui, di dunia penerbitan, ada distributor buku yang bersifat modern dan tradisional. Distributor tradisional ini masih militan, dan karena masih didominasi laki-laki, perempuan biasanya ‘enggan’ untuk militan. Ia mengaku tidak mengalami kesulitan karena sejak kecil memiliki sifat tomboi.  

Dibesarkan di keluarga dengan adat yang menjunjung tinggi penghormatan terhadap lelaki alias patriarki, tidak lantas membuat Laura patah semangat dalam memperjuangkan mimpi-mimpinya, khususnya di dunia yang ditekuni sekarang. Ia mengaku bersyukur karena orang tuanya mendidik dengan memberikan keleluasaan yang diperlukan untuk bisa berkembang.

Meski mengaku emosional dan sering berderai airmata di balik ketegasannya saat bekerja, Laura mengatakan, dirinya tidak ingin tinggal diam jika ada hal yang tidak disetujuinya. Perempuan harus berani berbicara, dan mengungkapkan gagasannya secara gamblang. Melalui edukasi dan support system, perempuan harus bisa speak-up.

“Kita harus tahu apa yang kita inginkan. Jika kita sudah tahu apa yang kita inginkan, kita bisa memperhitungkan apa yang dibutuhkan untuk mencapai tujuan tersebut, apakah sepadan antara pengorbanan yang dilakukan dengan tujuan yang ingin dicapai? Jika jawabannya “ya”, maka berlarilah menuju tujuan tersebut, dan kita akan memiliki determinasi dengan sendirinya. You need to know who you are,” imbuh perempuan yang tengah menjalani program IVF (bayi tabung) sembari menjalani segudang aktivitas ini.

Claudia Kaiser, Vice President Business Development Frankfurt Book Fair, menutup diskusi dengan memotivasi penghujung yang hadir, untuk tidak pernah takut mengutarakan apa yang dianggap benar. Menurutnya, perjuangan dimulai dari keberanian.

Different countries, different stories. We must have the courage to speak up what you think is right. The right people for the right talent is still a long way,” tutupnya.

Tentang Penulis
Dewi Fadhilah Soemanagara
Deskripsi penulis tidak tersedia


TAMBAHKAN KOMENTAR

Silahkan Masuk untuk berkomentar.

KOMENTAR

Memuat... Belum Ada Komentar