DJAWA, Menilik Cerita di Balik Batik Unik

Regina Mone | 05 Desember 2018, 17:38 WIB

Jakarta, MNEWS.co.id – Kehadiran batik di tengah-tengah kita mungkin sudah tidak asing lagi. Batik kini tidak hanya berfungsi sebagai pakaian formal, melainkan sudah mulai merambah jadi aksesoris, seni kriya, bahkan ornamen penghias interior ruangan.

Asal Mula Batik
Batik berasal dari bahasa Jawa, kata amba dan tik yang berarti menulis titik. Metode membatik cukup beragam, mulai dari batik tulis dengan menggunakan canting, batik lukis, batik cap, hingga batik yang menggunakan cetak sablon maupun mesin printing.

Batik, sebutan untuk secarik kain yang dilukis dengan menggunakan canting dan cairan malam (lilin) hingga membentuk motif-motif tertentu, memang tidak sesederhana kelihatannya. Kain mori atau kain katun putih yang ditenun dengan sistem tenunan sederhana biasanya menjadi kain yang digunakan untuk membatik. Namun, seiring dengan perkembangannya, kain mori juga ada yang dibuat dengan menggunakan bahan rayon, polyester hingga sutra.

Ilustrasi batik. Foto: Unsplash.

Ada beberapa tahap yang harus dilalui dalam proses pembuatan batik, mulai dari pengkhetelan, menyorek, nyanting atau nglowong, serta beberapa kali nembok, nyelup, dan ngerok. Tidak cukup disitu saja, kain yang sudah melalui serangkaian proses tadi harus dijemur sampai benar-benar kering, sebelum dijahit atau langsung digunakan.

Itu sebabnya, kain batik yang dibuat dengan proses tradisional memiliki harga yang cukup mahal, karena sebanding dengan serangkaian tahapan yang dilalui serta kualitas akhirnya yang memukau.

Benny (Djawa) dan Batik
Benny Adrianto, mulai memasuki dunia batik-membatik sejak 1998. Djawa Arts & Crafts yang dirintisnya menaungi usaha batik dan wayang golek, kini dijalani bersama putranya, Andi Purwono. Awalnya, Benny khusus membuat batik untuk interior dan membuat desain sendiri mulai dari warna serta motif. Hingga akhirnya, Ia mulai mengembangkan kemampuannya untuk membuat kain batik dan selendang (scarf). Menurut Benny, selendang atau scarf bisa dipakai oleh siapapun.

“Karena scarf kan siapapun pakai. Kalau kain kan hanya jarik, atau dipotong jadi baju, hanya orang kita yang pakai. Scarf lebih luas penggunaannya, orang asing juga pakai. Satu poin yang paling penting tuh gampang dijual, artinya scarf pasarnya luas,” ujar Benny kepada MNEWS.

Kain batik dan scarf aneka motif yang menggunakan berbagai material unik desain Benny Adrianto.
Foto: (doc/MNEWS).

Untuk batik yang dibuatnya, Benny merancang sendiri berdasarkan ornamen Indonesia. Tidak melulu bermotif tenun atau batik pada umumnya, Benny mengembangkan motif yang terinspirasi dari rumah adat maupun perhiasan tradisional. Masing-masing memiliki ceritanya, dan menurutnya itu adalah daya tarik yang memiliki nilai lebih.

Inovatif, Rancang Batik Dekonstruktif
Bagi Benny, batik adalah harmoni. Bagaimana cara menyeimbangkannya tergantung pada kreativitas si pembuat itu sendiri. Ia pun merancang desain yang dekonstruktif, yang mungkin bagi sebagian orang agak aneh. Perpaduan antar motif yang dibuatnya pun menghasilkan komposisi yang harmonis.

“Saya dekonstruktif ya, mengkonstruksi kembali desain yang ada, agak sedikit ditabrak tapi ujungnya harus harmoni. Ada balance, ada harmoni disitu. Entah prosesnya mau diacak-acak atau dikomposisi ulang, itu cara kita kerja. Yang penting hasilnya bisa menarik secara visual, ada yang baru, nggak umum jadi orang nggak bosan,” pungkasnya.

Lelaki kelahiran Magelang, 56 tahun yang lalu tersebut mengakui, untuk konsep desain biasanya muncul secara spontan. Ketika konsep sudah ada di kepala, akan lebih mudah dituangkan. Dirinya selalu membawa bolpen dan kertas ke mana-mana, agar bisa mudah menuangkan desain yang terlintas di pikiran. Batasan untuk berkarya hampir tidak ada. Indonesia kaya akan budaya, tidak ada habisnya untuk dieksplorasi.

Detail salah satu batik dekonstruktif karya Benny, perpaduan antara motif khas Kalimantan
dengan ikon kuda. Foto: (doc/MNEWS).

Untuk desain yang dibuatnya pun bisa direquest secara spesifik oleh customer. Ia beserta beberapa orang pegawainya biasa membuat desain sesuai pesanan, yang biasanya direquest oleh perusahaan besar untuk membuat souvenir. Sering pula orderan dari daerah yang minta dibuatkan desain berdasarkan kultur mereka, untuk konsumsi turis.

Meski tidak memiliki toko dan hanya menjual dari pameran ke pameran atau sesuai pesanan, Benny tetap profesional dalam melayani pelanggan. Dengan rata-rata omzet Rp 60 juta hingga Rp 80 juta per bulan, Benny yang spesialis batik tulis menyasar upper class market, karena high end product yang dibuatnya. Harga scarf batik yang ditawarkannya pun cukup bervariasi, mulai dari Rp 1,5 juta hingga Rp 5 juta.

Bosan Kerja Kantoran, Batik Membuatnya Tertarik
Latar belakang pendidikan Benny yang seorang programmer, sempat membuatnya bertahan bekerja kantoran di perusahaan konsultan Amerika selama 10 tahun lamanya. Ia akhirnya menyadari, mengerjakan hobi alias sesuatu yang disukai lebih bermakna ketimbang bekerja penuh waktu di suatu bidang yang tidak bisa dinikmatinya.

Batik sebagai hobi yang menghasilkan mulai merasukinya ketika masih duduk di bangku sekolah. Saat itu, Benny mengaku masih sering nyekar ke Jawa, di daerah sang ayah, Kebumen. Di sana, Ia melihat orang membatik, menempuh proses hingga berminggu-minggu bahkan berbulan-bulan. Benny kemudian berpikir, kenapa harus repot-repot?

“Ternyata batik itu proses, bukan barang instan. Disitu saya mulai tertarik. Kok bisa ya, orang kita punya kemampuan membatik. Pencapaian terbaik itu di Jawa. Secara kualitas kerjaan, detail, ada di Jawa. Harus diakui, karena di semua negara ada batik. Cina juga ada, India ada dengan teknik yang lebih simpel, hasilnya kan beda. Tiap daerah punya teknik sendiri,” aku pria yang aktif dalam berbagai kegiatan sosial di Yayasan Karya Adipurna Indonesia (KAIN).

Pembatik sedang membuat batik tulis dengan canting di Workshop Djawa Arts & Crafts,
kawasan Pasar Minggu, Jakarta Selatan. Foto: (doc/MNEWS)

Awalnya, orang tua Benny menentang keinginannya untuk menempuh pendidikan di Institut Kesenian Jakarta (IKJ). Akhirnya Ia memutuskan ambil jurusan komputer agar lebih cepat dapat pekerjaan. Orang tua berpesan kepadanya untuk selalu berusaha dan mengerjakan yang terbaik di bidangnya, harus serius. Jangan setengah-setengah atau sambil lalu.

“Saya cuma ingin kerjakan yang terbaik, berusaha sebaik mungkin, supaya tetap bertahan. Konsistensi perlu, jangan cuma bosenan. Kalau mau serius di bidang ini, kita harus punya karakter sendiri. Orang akan lihat ‘oh ini produknya si ini’, karakter saya di sini. Itu perlu waktu kan, lama, sampai ketemu banget. Walaupun setelah itu kita harus realistis menyesuaikan pasar. Kadang ada produk yang bukan karakter saya tapi keluar juga, kan kita harus muter. Cari penghasilan. Jangan terlalu kaku sama market,” imbuhnya.

Belajar dari Pengalaman
Pengalaman adalah pembelajaran yang paling berharga. Begitu pun dengan Benny, setelah sempat memasuki pasar ekspor Jepang yang dinilai paling sulit dan ‘rewel’ dari segi tuntutan pekerjaan, warna, hingga detail dan lain-lain, akhirnya bisa mengantarnya untuk memasuki pasar Taiwan, Australia dan masih banyak lagi. Bagaimana memahami selera pasar, itu yang terpenting.

Namun, Benny kini memilih fokus menargetkan pasar Indonesia karena sudah cukup berprospek. Pengalamannya dahulu mengajarkannya untuk menghadapi pembeli hingga babak belur. Sebab, kapasitas yang masih terbatas memaksanya untuk bekerja sama dengan pengrajin di daerah dan ternyata cukup sulit untuk bisa menyesuaikan dengan deadline atau schedule yang ditetapkan oleh buyer dari luar negeri. Ia beranggapan, asal segmen pasarnya jelas dan bisa sekreatif mungkin, produk yang ditawarkan akan selalu terjual.

“Pasar di Indonesia tuh gede banget. Jakarta aja udah gede banget. Paling enak di negara sendiri sebetulnya, asal kita jelas segmen pasarnya. Cuma tantangannya ya kita harus kreatif. Orang bayar mahal nggak keberatan, asal itu memang spesifik produknya,” tandas Benny.

Benny Adrianto, sosok yang ramah dan hangat di balik kreasi unik batik dekonstruktif
Djawa Arts & Crafts. Foto: (doc/MNEWS)

Ia bercerita, pengalaman saat masih sering ekspor itu memaksanya jadi ‘bumper’ hingga digebrak meja oleh kliennya. Banyak kegagalan yang membuatnya belajar untuk menjadi seperti sekarang. Ukur kapasitas dengan ritme pekerjaan, khususnya ketika bermitra dengan pihak lain. Pasalnya, dulu saat Ia masih bermitra dengan pabrik di Solo dan pengerjaan sering terlambat, Ia harus mengawasi langsung prosesnya sampai sakit-sakitan. Pengalamannya yang belum menemukan partner profesional inilah yang sempat membuatnya jera. Namun tidak tertutup kemungkinan, Benny akan mencoba ekspor lagi apabila sudah menemukan partner yang klik.

Benny juga mengkritik seniman-seniman yang kerap ‘menjiplak’ karya seniman lain. Menurutnya hal tersebut bukan masalah, tapi setidaknya suatu karya itu harus diolah, dikomposisi ulang, jangan copycat. Ide boleh sama, tapi hasil akhirnya harus jadi sesuatu yang berbeda. Ia mencontohkan, segala inspirasi yang ada sebenarnya tidak murni dari otak manusia, tetapi dipengaruhi oleh berbagai faktor dan juga lingkungan. Kita merasa, melihat, banyak indera yang bisa digunakan untuk belajar, alih-alih menjiplak 100 persen.

Lebih lanjut, pria yang membuat batik personal one of a kind ini beranggapan, pengalamannya sering dijiplak oleh seniman dari berbagai daerah seperti Pekalongan dan Bali menjadi tantangan tersendiri baginya untuk terus kreatif dan tidak malas berpikir. Hal ini menstimulasi agar Ia terus menghasilkan inovasi dan keunikan-keunikan yang tidak akan dimiliki oleh produk batik lainnya.

Filosofi Batik, Lebih Dari Sekadar Antik
Ketika ditanya, apa makna batik bagi seorang Benny Adrianto? Ia menjawab, banyak. Tapi, ada salah satu filosofi batik yang Ia sukai. Filosofi ini diketahuinya dari batik klasik. Dalam sehelai kain batik klasik, selalu dibuat dua sisi, bagian luar dan bagian dalam. Saat kain tersebut dikenakan, bagian dalamnya akan tersingkap ketika si pemakai sedang berjalan. Ternyata itu mengandung filosofi tersendiri. Pengerjaan dua sisi kain batik yang harus sama persis tersebut mencerminkan prinsip bahwa luar-dalam seorang manusia harus sama.

Proses pembuatan batik tulis dengan menggunakan canting dan malam di workshop
Djawa Arts & Crafts. Foto: (doc/MNEWS)

Dilihat dari sisi praktis, kain batik atau jarit yang dikenakan memang harus selalu dibuat sama persis kedua sisinya agar bagian dalamnya juga terlihat bagus, tidak kotor ataupun kusam. Tapi ternyata, si pemakai kain juga harus memiliki sifat-sifat yang bagus serta konsisten di luar dan dalam. Jangan munafik.

“Kita harus bersih luar dalam. Itu kenapa batik dibuat harus bolak-balik, hati orang harus sama. Itu yang paling kena, simpel banget, tapi sulit dipraktikkan. Kita bisa lihat kain batik di satu sisi, sisi sebaliknya gimana? Tergantung tujuan kita bikin batik. Itu lebih ke nalar, kalau kita perlakukan kain sesuai dengan peruntukannya, ya emang harus bolak-balik. Batik buat saya seperti itu, buat saya simpel tapi susah jalaninnya,” jelas Benny.

Tips Memulai Usaha Ala Benny
Benny pun membagikan tips memulai usahanya kepada MNEWS. Pertama, harus senangi dulu apa yang dikerjakan, supaya terus termotivasi walau menghadapi berbagai kesulitan. Analoginya, walau harus menerima keluhan dari pelanggan sebanyak apapun juga, tidak akan merasa terbebani.

Kedua, harus serius. Pelajari benar-benar apa yang hendak dikerjakan. Jangan menyepelekan detail. Untuk bidang fashion dan kriya misalnya, finishing harus bagus. Walau produk yang dijual bukan barang mahal, kita harus tetap bertanggung jawab terhadap apa yang kita buat. Jangan pernah putus asa. Karena ketika mengerjakan apa yang kita sukai, lelah dan lembur tidak akan berasa capek.

“Satu lagi, kita harus punya partner yang pas. Kita harus lihat kapasitas kita, jangan maksain juga, nanti repot sendiri. Harus dengan segala cacian dari buyer,” ujar Benny.

Dalam membuat suatu produk berkualitas yang bernilai seni, tentu tidak mudah, oleh karenanya value yang terkandung dalam produk tersebut sewajarnya tidak dihargai dengan ‘murah’. Ada serangkaian proses yang rumit di baliknya, kerja keras berbagai tangan dan kepala dalam mengerjakannya, bahkan tak jarang pengorbanan para pembatik yang harus menyesuaikan buah pikiran dan perasaan dengan tangannya. Hasilnya, sebuah benda yang tidak hanya unik dan tak ada duanya, tapi juga estetik dan memberikan makna tersendiri bagi si pemakai.

Penasaran dengan karya-karya yang dihasilkan Benny “DJAWA”? Bisa mampir ke laman Facebooknya, “DJAWA Arts and Crafts”

Tentang Penulis
Regina Mone
Deskripsi penulis tidak tersedia


TAMBAHKAN KOMENTAR

Silahkan Masuk untuk berkomentar.

KOMENTAR

Memuat... Belum Ada Komentar