UMKM dan Momentum Hari Belanja Online Nasional

Regina Mone | 05 Desember 2018, 14:22 WIB

Jakarta, MNEWS.co.idHari Belanja Online Nasional (HARBOLNAS) merupakan kegiatan tahunan yang diselenggarakan bersama oleh berbagai e-commerce di Indonesia yang diadakan pada tanggal 12 Desember dengan dukungan dari sejumlah mitra, seperti pelaku industri telekomunikasi, perbankan, logisitik hingga media. Diselenggarakan pertama kali pada tahun 2012 melalui inisiatif dari Lazada Indonesia, Zalora, Blanja, PinkEmma, Berrybenka dan Bukalapak, Harbolnas kini telah menginjak tahun keenam, dengan lebih dari 300 e-commerce yang berpartisipasi.

Akhir tahun menjadi momen bagi e-commerce untuk melipatgandakan transaksi perdagangannya dengan menggelar pesta diskon. Pengalaman sebelumnya, sekitar 75% pendapatan e-commerce per bulan, bisa diperoleh hanya dalam sehari festival diskon. Momentum ini bisa dimanfaatkan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) melalui mitra penyedia aplikasi e-commerce untuk meningkatkan penjualannya.

Pada festival diskon tahun lalu, Shopee menjual 7 juta produk dalam sehari. Pada Shopee Super Shoping Day 9.9 yang berlangsung di 7 negara pada 9 September lalu, Shopee berhasil menjual 15 juta produk dengan 5,7 juta transaksi. Mengutip informasi yang didapat oleh katadata.co.id, capaian pada event serupa 11 November kemarin, penjualannya sudah melampaui 15 juta produk. Sekitar 70% produk yang terjual dalam pesta diskon ini merupakan produk lokal, termasuk yang diproduksi oleh UMKM.

Meski transaksi meningkat, UMKM harus bersaing dengan ribuan penjual yang turut berpartisipasi dalam festival tersebut. Sebab, selain bisa memperluas pasar bagi UMKM, e-commerce juga menambah pilihan bagi konsumen.

Menurut Ketua Umum Asosiasi E-Commerce Indonesia (idEA) Ignatius Untung, UMKM harus berinisiatif mengumpulkan data seputar konsumen dari e-commerce tempatnya bernaung. Data itu bisa dipakai untuk mengembangkan bisnis dan produk, supaya lebih menarik bagi konsumen. Dengan begitu, UMKM tersebut akan siap untuk bersaing di e-commerce, terutama pada saat pesta diskon. “Tantangannya besar (masuk e-commerce). Tetapi kalau tidak masuk, risikonya lebih besar lagi bagi UMKM,” ucapnya.

Direktur Jenderal IKM Kementerian Perindustrian (Kemenperin) Gati Wibawaningsih pun sependapat. UMKM harus memerhatikan kualitas dan tampilan produk bila ingin bersaing di e-commerce. Tetapi, bukan berarti UMKM tak perlu bergabung ke e-commerce. Dia mencontohkan omzet salah seorang pengusaha dompet bernuansa batik di Yogyakarta bisa meningkat tujuh kali lipat setelah berjualan di e-commerce.

Penelitian Deloitte Access Economics menunjukkan pendapatan UMKM di Indonesia yang memasarkan bisnisnya secara online, naik hingga 80%. Alhasil, pertumbuhan ekonomi Indonesia bisa meningkat 2% per tahun, mengingat jumlah UMKM di Indonesia nyaris 60 juta. “Logika saja, pada saat pesta diskon, transaksi meningkat. Pesanan produk UMKM (yang berjualan di e-commerce) juga pasti meningkat,” ujarnya.

Bahkan, Staf Khusus Menteri Komunikasi dan Informatika (Kominfo) Lis Lestari Sutjiati sempat mengatakan pendapatan UMKM bisa meningkat dua kali lipat dengan berjualan secara online. Hanya saja, baru 7,2 juta UMKM yang memanfaatkan internet dalam memasarkan produknya. Itu pun, sekitar 36% diantaranya berjualan lewat media sosial seperti Instagram. Pemerintah menargetkan 8 juta UMKM bisa berjualan di e-commerce pada 2019.

Hari Belanja Online Nasional adalah festival belanja online terbesar di Indonesia yang akan berlangsung 1 hari setiap tanggal 12 Desember dimana konsumen bisa mendapatkan berbagai macam promo terbaik dari berbagai e-commerce di Indonesia.

Pada pelaksanaan Harbolnas tahun ini, akan mendedikasikan 1 hari spesial yaitu 11 Desember 2018 untuk menyediakan promo khusus produk lokal dan UMKM mulai dari fashion, makanan, elektronik, perlengkapan rumah tangga, hingga traveling keliling Indonesia.

Tentang Penulis
Regina Mone
Deskripsi penulis tidak tersedia


TAMBAHKAN KOMENTAR

Silahkan Masuk untuk berkomentar.

KOMENTAR

Memuat... Belum Ada Komentar