Tahun 2024 Mendatang, 50 Persen Pelaku UMKM Diproyeksikan Go Digital

Dewi Fadhilah Soemanagara | 12 April 2019, 10:00 WIB

Jakarta, MNEWS.co.id – Sekretaris Kementerian Koperasi dan UKM Rully Indrawan mengatakan, 50 persen Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) ditargetkan sudah terdigitalisasi pada 2024.

"Sekarang lagi dibahas RPJM 2020-2024 dimana 50 persen pelaku UMKM ditargetkan sudah go digital. Tapi ingat tak semua UMKM itu cocok untuk go digital, ada yang lebih pas secara konvensional. Jadi digitalisasi UMKM ini tak akan pernah mencapai 100 persen," kata Rully Indrawan, usai menerima Rekomendasi Kesiapan UMKM 4.0 dalam Menunjang Ketahanan Ekonomi di Era Disruptif oleh ITS (Institut Teknologi Surabaya), di Jakarta, Kamis (11/4/2019).

Rully menegaskan, UMKM adalah satu tulang punggung ekonomi di Indonesia. Perannya yang vital itu tergambar dalam data bahwa dari sekitar 62 juta unit usaha di Indonesia, sekitar 99% merupakan UMKM.

Untuk itu pemberdayaan sektor UMKM amatlah penting, tak hanya bagi pemerintah namun juga pihak lain seperti institusi di bidang terkait sampai akademisi. Apalagi kehadiran teknologi sering dianggap sebagai disrupsi karena ditengarai malah akan mengurangi jumlah potensi tenaga kerja sektor UMKM.

Acara Rekomendasi Kesiapan UMKM 4.0 dalam Menunjang Ketahanan Ekonomi di Era Disruptif oleh ITS
(Institut Teknologi Surabaya), di Jakarta, Kamis (11/4/2019). Foto: Kemenkop.

Terkait rekomendasi ITS, Rully Indrawan mengatakan pihaknya berterima kasih dan memberikan apresiasi kepada ITS. 

"Untuk selanjutnya rekomendasi ini akan kita pelajari dan diselaraskan dengan program Kementerian yang juga sudah memiliki road map terkait digitalisasi UMKM ini," tambah Rully.

Integrasi Offline dan Online

Sementara itu Chairman ICSB Indonesia Hermawan Kartajaya mengatakan ICSB - sebagai pihak yang menjembatani antara ITS dan Kemenkop dan UKM berpandangan, rekomendasi ini tujuannya mempersiapkan bagaimana UMKM tidak menganggap teknologi sebagai disrupsi, namun justru memanfaatkan digital demi mengembangkan bisnis lebih baik lagi.

"Sekarang ada online dan offline. Hadir di pasar secara offline, tapi di online juga ada yang artinya mengintegrasikan dua hal yang berbeda itulah OMNI," ujar Hermawan Kartajaya.

Harapannya, lewat Kementerian Koperasi dan UKM, dokumen studi tersebut bisa menjadi pertimbangan serta diaplikasi sebagai wujud sektor UMKM yang lebih maju dan terdigitalisasi.

Dalam studi tersebut dipaparkan, era UMKM 4.0 adalah bisnis yang sudah mengintegrasikan teknologi digital seperti sosial media, sampai yang lebih maju lagi seperti pemanfaatan Internet of Things (IoT).  

Kehadiran platform seperti marketplace yang merupakan akses satu pintu bagi UMKM dalam memasarkan produk produknya juga menjadi kunci.

Arman Hakim Nasution mengatakan, dalam studi yang dilakukan UMKM dalam era teknologi 4.0 memiliki empat unsur yang harus diperkuat, yaitu Teknoware, Humanware, Infoware dan Organware.  

Untuk mewujudkannya harus ada kolaborasi antara pemerintah, BUMN, perguruan tinggi dan swasta termasuk di dalamnya marketplace.  

"Harapannya, agar UMKM bisa dijembatani dan dibantu dari sisi teknologi, sehingga mereka bisa bersaing di pasar nasional. Dengan kata lain, UMKM didorong agar bermitra dengan para penyedia teknologi serta diberi pelatihan-pelatihan yang menunjang," katanya.

Arman menambahkan, pemerintah dan semua pihak terkait harus mendorong UMKM memiliki literasi dalam konsep digitalisasi.

"Selanjutnya jika UMKM pengin naik kelas, data digital bisa diolah menjadi decision dan lalu ada wisdom nya. Bagaimana cara mengolahnya itu juga kami paparkan," katanya.

Bagaimanapun kata Arman, manusia adalah makhluk sosial, karena itu digitalisasi juga harus memiliki sisi humaniora.

"Jadi ada tiga literasi yang harus digabung untuk bisa UMKM naik kelas di era 4.0 ini yaitu literasi digital, data dan humaniora," tambahnya.

Tentang Penulis
Dewi Fadhilah Soemanagara
Deskripsi penulis tidak tersedia


TAMBAHKAN KOMENTAR

Silahkan Masuk untuk berkomentar.

KOMENTAR

Memuat... Belum Ada Komentar