Produksi Kopi di Indonesia Masih Rendah, Butuh Alternatif Budidaya

Dewi Fadhilah Soemanagara | 24 April 2019, 10:47 WIB

Jakarta, MNEWS.co.id – Produktivitas kopi Indonesia berpotensi untuk terus ditingkatkan. Jika melihat data jumlah produksi dan luas lahan yang dimiliki Indonesia, terdapat indikasi bahwa tingkat produktivitas di Indonesia masih rendah.

Sementara dari data Kementerian Pertanian tahun 2018, produktivitas kopi Indonesia berada pada angka 731 kg/ha. Nilai ini masih terbilang rendah kalau dibandingkan dengan potensi produktivitas yang bisa dicapai oleh tanaman kopi di Indonesia. Salah satu yang dapat dilakukan adalah dengan memperbaiki metode budidaya petani.

Peneliti Center for Indonesian Policy Studies (CIPS) Arief Nugraha mengatakan, potensi Indonesia pada komoditas kopi terbilang cukup besar. Menurut Pusat Penelitian Kopi dan Kakao (Puslitkoka), 90% dari pohon kopi di Indonesia sudah menggunakan tanaman klon yang unggul. Yang dimaksud dengan tanaman klon yang unggul adalah tanaman yang dibuat dari dua induk untuk menghasilkan tanaman yang unggul. Penggunaan tanaman klon unggul akan meningkatkan potensi produktivitas kopi Indonesia.

“Potensi tanaman klon unggul dari Puslitkoka adalah sekitar 1-2 ton per ha. Kalau potensi produktivitas kopi Indonesia tidak mampu berkembang, maka ada sebuah masalah yang terjadi pada cara budidaya kopi di kalangan petani,” jelas Arief dalam keterangan tertulis yang diterima MNEWS di Jakarta, Selasa (23/4/2019).

Ia menjelaskan, budidaya kopi yang baik dapat merujuk kepada Good Agricultural Practice (GAP) dari Puslitkoka ataupun lembaga lain, baik lembaga nasional ataupun lembaga internasional. Contoh budaya GAP yang baik adalah melakukan pemangkasan, pemupukan, penyiangan secara rutin dan juga memberikan pohon pelindung. Metode budidaya yang efektif dan efisien perlu terus digalakkan.

Meskipun terlihat sederhana, akan tetapi pada kenyataan di lapangannya banyak petani yang tidak dapat menjalankannya. Hal ini dikarenakan adanya ketidaktahuan petani ataupun ketidakmampuan petani untuk menjalankan Good Agricultural Practice ini. Kemampuan finansial ataupun faktor alam juga dapat menjadi penghambat.

Untuk dapat mengatasi masalah budidaya di level petani ini diperlukan penyuluhan kepada petani Kopi di Indonesia. Sementara itu dari data Kementerian Pertanian tahun 2018, jumlah petani kopi di Indonesia diperkirakan mencapai angka 1.858.392 kartu keluarga, dimana sekitar 96% nya merupakan petani perkebunan rakyat. Banyaknya jumlah petani menghambat adanya penyuluhan secara sekaligus.

Penyuluhan, lanjut Arief, harus dilakukan secara perlahan dan menyeluruh atau pemerintah dapat membentuk komunitas petani di tiap kabupaten/kecamatan agar para petani dapat bertukar informasi tentang bagaimana proses budidaya kopi yang baik dapat berjalan. Dengan adanya sebuah forum untuk bertukar informasi, diharapkan terjadi peningkatan transfer pengetahuan dan pengalaman antar petani, sehingga mereka dapat meningkatkan produktivitasnya.

Tingkatkan Kualitas dan Produktivitas

Kualitas kopi yang baik dihasilkan diukur melalui defect count (karakteristik rasa/sensasi rasa kopi yang tidak negatif). Semakin banyak terjadi kecacatan dalam hasil panen, maka defect count akan semakin besar. Cara untuk meningkatkan produktivitas juga perlu diperhatikan, karena jika panen dengan cara menggunakan mekanisasi atau alat mesin pertanian, maka kemungkinan akan terjadi hasil kualitas panen yang tidak maksimal, hal ini dikarenakan ketika menggunakan mesin, maka hasil panen akan bercampur antara buah yang bagus dan tidak bagus. Hasil panen yang bercampur ini akan menurunkan kualitas dari kopi yang dipanen.

Selain meningkatkan produktivitas, hal lain yang juga tidak kalah penting adalah kualitas hasil panen. Peningkatan produktivitas harus dibarengi dengan peningkatan kualitas kopi. Kopi yang berkualitas, selain dihasilkan dengan cara Good Agricultural Practice (GAP) pada saat budidaya, juga memerlukan perlakuan pasca panen yang efisien. Kopi berkualitas biasanya dihasilkan dari hasil petik merah atau saat petani hanya memanen buah kopi yang matang dengan tangan. Dengan demikian, kopi yang dipanen adalah kopi-kopi pilihan yang nantinya juga akan disortir kembali baru kemudian dapat dijual.

Pada kesimpulannya, usaha peningkatan produktivitas pada tanaman kopi tetap harus memperhatikan kualitas kopi. Karena kopi yang diolah dengan hanya memperhatikan kuantitas tidak akan menghasilkan kopi dengan kualitas yang tinggi.

Selain memastikan produktivitas yang tinggi, perlu dipastikan juga bahwa kualitas kopi yang dihasilkan petani. Karena kualitas kopi akan berujung pada harga jual kopi tersebut. Semakin berkualitas maka semakin tinggi harga jual kopi yang diperoleh para petani nantinya.

Berdasarkan dari data FAO tahun 2017, Indonesia merupakan negara penghasil kopi terbesar keempat dunia setelah Brazil, Vietnam, dan Kolombia. Pada tahun 2017, Brazil sebagai penghasil kopi terbesar dunia memproduksi kopi sebanyak 2.680.515 ton, yang disusul oleh Vietnam dengan jumlah produksi sebanyak 1.542.398 ton, Kolombia dengan 754.376 ton dan Indonesia berada di peringkat keempat dengan jumlah produksi sebesar 668.677 ton.

Sementara itu, berdasarkan luas lahan tanaman kopi yang disebutkan dalam data FAO tahun 2017, negara yang memiliki luas lahan tanaman kopi terbesar adalah Brazil dengan luas area sebesar 1.800.398 ha. Sementara Indonesia berada di peringkat kedua dengan lahan seluas 1.253.796 ha dan peringkat ketiga ada Pantai Gading dengan lahan seluas 1.081.889 ha. Sementara itu di peringkat empat ada Kolombia dengan lahan seluas 798.358 ha.

Tentang Penulis
Dewi Fadhilah Soemanagara
Deskripsi penulis tidak tersedia


TAMBAHKAN KOMENTAR

Silahkan Masuk untuk berkomentar.

KOMENTAR

Memuat... Belum Ada Komentar