Potensi Ekonomi Syariah, Menkop UKM Yakin BMT Mampu Wujudkan Pemerataan Kesejahteraan

Dewi Fadhilah Soemanagara | 07 November 2018, 17:22 WIB

Jakarta, MNEWS.co.id – Menteri Koperasi dan UKM AAGN Puspayoga menegaskan, peran dan kehadiran Baitul Maal Tamwil (BMT) di seluruh Indonesia dalam mewujudkan pemerataan kesejahteraan masyarakat sangatlah strategis.

"Saya menaruh harapan besar terhadap BMT untuk terus bersinergi mewujudkan pemerataan kesejahteraan masyarakat. Saya optimis akan hal itu," kata Puspayoga.

Di hadapan 400 orang peserta dari 180 BMT (11 provinsi), Puspayoga menyebut Perhimpunan BMT Indonesia sebagai koperasi sekunder dan menghimpun 326 BMT yang melayani koperasi primer, menyatukan visi dan misi sebagai lembaga keuangan syariah dalam memberikan layanan pembiayaan syariah kepada usaha mikro dan kecil yang menjadi anggotanya.

"Dengan mayoritas penduduk Muslim, Indonesia berpotensi untuk mengembangkan ekonomi dan keuangan syariah," imbuh Puspayoga.

Saat ini, Indonesia menjadi negara dengan jumlah industri keuangan syariah terbanyak di dunia. Antara lain, terdapat 5000 institusi lembaga keuangan syariah, meliputi 34 perbankan syariah, 58 operator Takaful/Asuransi Syariah, tujuh perusahaan modal ventura syariah, 163 BPR Syariah, 4500 BMT, dan satu institusi pegadaian syariah.

"Tapi, di sisi lain, pangsa pasar keuangan syariah di Indonesia masih relatif kecil, yaitu 5,7% dari total industri perbankan nasional. Bandingkan dengan Malaysia yang sudah mencapai 23,8%," jelas Puspayoga.

Puspayoga pun menekankan bahwa pelaku bisnis tidak boleh hanya mencari keuntungan semata. Tapi juga harus memiliki benefit dan menguntungkan secara sosial. Jangan menjadi kapitalis, melainkan social enterpreneur. Misalnya, mampu mengolah satu produk agar tetap memiliki harga menarik meski usai panen harga biasanya turun.

Dalam kesempatan yang sama, Ketum Perhimpunan BMT Indonesia Jularso mengungkapkan bahwa terkait dana bergulir dari LPDB KUMKM pihak BMT sangat mengharapkan segera akad kredit dana bergulir.

"Berkas pengajuan dana bergulir yang kami kirim dikembalikan ke kita lagi, karena harus menyesuaikan dengan persyaratan baru sesuai dengan Peraturan Menteri Koperasi dan UKM. Selain itu, plafon kami juga dianggap terlalu kecil, maka diminta untuk ditambah plafon pengajuan kredit dana bergulirnya," ungkap Jularso.

Jularso menjelaskan, ada dua kegiatan utama dari BMT. Yaitu, sebagai Baitul Tamwil (lembaga bisnis) dan Baitul Maal (lembaga sosial).

"Bagi BMT, puncak dari tujuan akhir berbisnis adalah sosial. Karena, kemuliaan seseorang itu ketika mampu berbuat banyak untuk orang lain. Ukurannya adalah berapa banyak yang sudah menjadi anggota koperasi syariah dan sejauhmana pemberdayaan ekonomi umat," tutupnya.

Tentang Penulis
Dewi Fadhilah Soemanagara
Deskripsi penulis tidak tersedia


TAMBAHKAN KOMENTAR

Silahkan Masuk untuk berkomentar.

KOMENTAR

Memuat... Belum Ada Komentar