Kelas Komunitas Sahabat UMKM tema
Kelas Komunitas Sahabat UMKM tema "Developing a Strong Work Ethic for SMEs" di Tempat Kumpul Kreatif Centex⁣, Jakarta, Kamis (13/2/20). (Foto: MNEWS)

Jakarta, MNEWS.co.id – Strategi pengembangan Sumber Daya Manusia (SDM) perlu dikembangkan untuk membentuk personal yang berkualitas dengan keterampilan, kemampuan kerja, dan loyalitas kerja kepada suatu usaha ataupun organisasi. 

Khususnya untuk para pebisnis, sebesar apapun usaha yang dijalankan dalam segala bidang, semua tidak akan berjalan dengan baik tanpa mengetahui cara mengelola SDM yang dimiliki. Kreativitas, kekuatan fisik, kekuatan pikiran, dan nilai yang baik dari karyawan tidaklah cukup untuk membuat sebuah usaha berkembang.

Indra Kesuma Nasution selaku ASEAN Nagoya Club Advisor & Japan Business Consultant, memaparkan pelaku usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) di Indonesia, memiliki potensi besar dalam mengembangkan usahanya. 

Dalam mengembangkan sebuah usaha, juga diperlukan pengelolaan dan membangun budaya kerja yang baik secara konsisten. Karena, berdasarkan MIT Survey 2019, 85 persen pendapat CEO mengatakan bahwa budaya kerja (internal culture) yang buruk akan memicu hancurnya perusahaan.

Indra Kesuma Nasution, ASEAN Nagoya Club Advisor & Japan Business Consultant, saat menjadi narasumber dalam Kelas Komunitas Sahabat UMKM dengan tema “Developing a Strong Work Ethic for SMEs” di Tempat Kumpul Kreatif Centex⁣, Jakarta, Kamis (13/2/20). (Foto: MNEWS)

Dalam kegiatan ini Indra membagikan tips yang dilakukan oleh UMKM Jepang yaitu menggunakan metode Kaizen dan Omotenashi. 

Kaizen dalam bahasa Jepang memiliki pengertian sebagai perbaikan yang berkesinambungan dan dilakukan secara mendetail, terus menerus serta melibatkan seluruh tim atau karyawan dari manajemen tingkat atas hingga bawah. 

Tujuan Kaizen memiliki standar yang berkelanjutan yaitu Muda, Muri, dan Mura. Muda adalah aktivitas pemborosan dan tidak memberikan nilai positif, sementara Muri bermakna membebani yang berlebihan atau melampaui ambang batas. Dan yang terakhir yaitu Mura adalah tidak merata dan tidak teratur.

Sementara Omonetashi dalam bahasa Jepang adalah ramah tamah atau melayani dengan sepenuh hati. Konsepnya adalah memberikan jamuan dengan esensial keramahtamahan dan pelayanan terbaik kepada tamu melalui tata krama yang dilakukan kepada para tamu yang hadir.

Indra memberikan contoh yaitu saat Omotenashi pemilik suatu rumah makan mengantisipasi kebutuhan konsumen segera sejak awal, dan menawarkan layanan yang menyenangkan di mana konsumen tidak menyangka sebelumnya. Jadi kita tidak harus menunggu instruksi dari konsumen, sebagaimana biasa mereka yang membuat permintaan.

Penerapan Kaizen dan Omonetashi sangatlah penting untuk dilakukan oleh pelaku usaha di Indonesia, karena dengan pelayanan yang baik pasti menarik pelanggan yang baik. Sehingga kualitas layanan mengarah kepada kepuasan pelanggan, dan frekuensi kunjungan mereka sangat penting untuk para pelaku usaha.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here