Ilustrasi bisnis makanan halal. (Foto: FB Anggor)

Jakarta, MNEWS.co.id – Bank Indonesia menilai tidak semua peluang bisnis hancur di tengah pandemi, beberapa hal masih bisa bertahan bahkan menjanjikan.

Kepala Bank Indonesia Perwakilan Sumatera Selatan, Hari Widodo mengatakan salah satunya adalah bisnis makanan halal (halal food) yang masih berprospek di luar dan dalam negeri. Ia menyebutkan Indonesia sebagai negara dengan penduduk mayoritas muslim terbesar di dunia sejauh ini belum menggarap potensi tersebut secara maksimal.

“Saat ini, Indonesia memang menjadi pusat Industri halal, tapi dalam posisi sebagai konsumen. Justru negara non muslim masih menjadi penyuplai utama,” katanya dikutip dari Kompas.

Peringkat pertama eksportir produk halal yakni Brazil dengan 16,2 miliar dolar AS, diikuti India dengan nilai ekspor 14,4 miliar dolar AS. Selain itu, Indonesia juga menjadi konsumen produk halal peringkat pertama sebesar 114 miliar dolar AS.

Untuk memperluas peluang bisnis makanan halal, maka diperlukan peran para pemangku kepentingan menelisik potensi ini dari sisi hulu hingga hilir. Saat ini makanan halal telah menjadi kebutuhan, bahkan telah menjadi gaya hidup masyarakat dunia. Tak hanya penduduk muslim, masyarakat non muslim pun telah menjadi konsumen industri makanan halal.

Di mata global, makanan halal dianggap memenuhi standar mutu, kebersihan, dan keamanan. Konsumsi produk halal per tahun juga terus mengalami lonjakan lantaran populasi masyarakat bertambah dan pendapatan domestik produk atau PDB kian tumbuh. Namun agar produk makanan halal dalam negeri ini bisa diserap pasar dunia maka perlu ada kepastian untuk legalitasnya.

“Jika ini dilihat sebagai suatu kebutuhan maka akan dilihat mulai dari rantainya, tentunya konsumen akan melihat ada tidak sertifikat halalnya,” tambah Hari.

Artinya lembaga legal penyedia sertifikat halal juga harus dilibatkan dalam upaya ini. Dengan begitu, pasar makanan halal di Indonesia dapat diperluas ke berbagai negara. Saat ini Indonesia sudah mengekspor produk halal seperti makanan dan minuman, obat-obatan, kosmetik, dan fesyen.

“Di tengah pandemi ini, halal food ini menjadi peluang yang sangat menjanjikan, yang masuk dalam tiga strategi BI untuk memacu ekonomi tetap on the track yakni UMKM, digitalisasi ekonomi, dan ekonomi syariah,” pungkasnya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here