Inklusif, Kekuatan Dari Ekonomi Kreatif

Regina Mone | 06 November 2018, 22:55 WIB

Bali, MNEWS.co.id - Rangkaian konferensi ekonomi kreatif pertama di dunia, World Conference on Creative Economy (WCCE), di Bali Nusa Dua Convention Center (BNDCC), Bali resmi dimulai pada Selasa, 6 November 2018. Acara hari ini diawali dengan Friends of Creative Economy (FCE), sebuah diskusi yang dihadirkan untuk para delegasi dalam merumuskan tantangan utama dan kesempatan yang ada dalam ekonomi kreatif. Diskusi ini dibuka oleh Direktur Jenderal Kerjasama Multilateral, Kementerian Luar Negeri, Febrian A. Ruddyard, dan hadir sebagai pembicara kunci Wakil Kepala Bekraf Ricky Joseph Pesik.

Dalam paparannya Ricky mengapresiasi kehadiran para delegasi dari berbagai negara dan menjelaskan tentang kekuatan ekonomi kreatif. “Kekuatan ekonomi kreatif terletak pada inklusivitasnya, ekonomi kreatif untuk semua,” ujar Ricky. Lebih lanjut, ia menyampaikan bahwa ekonomi kreatif tidak mengenal batas, tidak dibatasi oleh jenis kelamin, usia, modal, bahkan pendidikan. Ekonomi kreatif semata-mata terletak pada kreativitas pikiran manusia dan kemampuannya untuk menciptakan ide-ide baru. Ia menekankan, itulah mengapa konferensi tahun ini mengambil tema “Inclusively Creative”.

Tidak hanya menyoroti pertumbuhan ekonomi kreatif, Ricky juga menyebut tantangan yang dihadapi para pelaku kreatif, seperti pembiayaan, pengembangan produk, pemasaran yang jika tidak ditangani secara serius akan mencegah para pelaku ekonomi kreatif untuk berkembang.

Lebih jauh Ricky mengatakan, ekonomi kreatif yang inklusif juga memiliki potensi besar dalam pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs). Ekonomi kreatif dapat menjadi jawaban untuk banyak permasalahan di dunia, bukan hanya tantangan ekonomi, tetapi juga sosial, bahkan berpengaruh terhadap keamanan di tingkat nasional, regional maupun global.

WCCE merupakan konferensi tentang ekonomi kreatif pertama di dunia. Acara yang digelar di Bali Nusa Dua Convention Center (BNDCC) pada 6-8 November ini mengusung tema Inclusively Creative dengan mengangkat lima isu utama, yakni kohesi sosial, regulasi, pemasaran, ekosistem, dan pembiayaan industri kreatif. Kegiatan tersebut diikuti perwakilan lebih dari 50 negara dan lebih dari 2.000 peserta. WCCE juga akan merumuskan Deklarasi Bali yang nantinya diusulkan ke Sidang Umum PBB di tahun depan. Hal ini diharapkan semakin menguatkan ekosistem dan mendukung perkembangan ekonomi kreatif dunia yang telah memasuki era 4.0.

Tentang Penulis
Regina Mone
Deskripsi penulis tidak tersedia


TAMBAHKAN KOMENTAR

Silahkan Masuk untuk berkomentar.

KOMENTAR

Memuat... Belum Ada Komentar